Sosok

Hukuman Serda Ucok, 11 tahun bui dan dipecat (foto: Tempo)

Atas Nama Jiwa Korsa dan Utang Nyawa, Serda Ucok Habisi 4 Preman di Lapas Cebongan

Serda Ucok baru-baru ini kembali viral setelah unggahan foto dan video dirinya sedang bernyanyi muncul di sejumlah platform media sosial.

Terkini

Impian Riko Mengglobalkan Kopi Kampung

Ngopi di spot yang nyaman (foto: Rano Hutasoit)

Bermodal sepetak lahan di kampungnya, Riko ingin menyuguhkan sensasi ngopi dengan kopi yang masih segar hasil panen sendiri.

MH Manullang Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

MH Manullang, pejuang yang humanis (foto: Sumut Pos)

Tuan MH Manullang lahir di Tarutung, 20 Desember 1887 dan meninggal di Jakarta, 20 April 1979. Beliau berjuang secara konsisten sejak 1906, menentang kolonialisme di Tanah Batak lewat media yang didirikannya, yaitu Sinondang Baru dan Soara Batak.

Mengorbankan Kebebasan Diri Demi Kesejahteraan Kaum Buruh

Muchtar Pakpahan, pimpinan kaum buruh (foto: viva news)

“Bang Muchtar kan pimpinan kaum buruh. Jadi, orang-orang di sini menyebut dia presiden,” sipir itu menjelaskan.

Kesederhanaan di Balik Sosok Muchtar Pakpahan

Muchtar Pakpahan, aktivis buruh yang pemberani (foto:Jabar pos)

Bekerja mengayuh becak tak membuat Pakpahan rendah diri. Sebaliknya, dari becak itulah ia mengejar mimpinya menjadi seorang dokter.

Pustaka Berjalan Seni Tradisi Simalungun

Raminah Garingging manortor (foto: Istimewa)

Ia mencermati perilaku belalang. Lahirlah tortor [tari] Balang Sahua. Ia mengamati lelaku kera. Hasilnya adalah Tortor Bodat Na Haudanan. Ia memelajari karakter pemancing ikan. Mengadalah Tortor Makkail. Tortor Sirintak Hotang, Imbou Manibung, atau Manogu Losung tercipta lewat proses serupa.

Poda Cafe dan Nyala Semangat untuk Mensejahterakan Petani Dairi

Pendeta Samuel Sihombing (foto: Rindu Hartoni Capah)

Sekarang di Sidikalang sudah ada 17-18 kafe penyuguh kopi. Bagi Samuel itu hal positif. Berarti masyarakat sudah mulai menyadari keberartian kopi setempat.

Mematut Wajah Kabupaten Tapanuli Selatan di Tahun 1950-an

Buku terbitan tahun 1959 (foto: P. Hasudungan Sirait)

Di tahun 1959 sudah ada rumah sakit (rumah sakit umum dan milik tentara), gedung pertunjukan termasuk bioskop (Angkola Theater dan Tapanuli Theater), restoran, losmen, dan puspa toko di Padang Sidempuani. Pula, bengkel untuk sepeda, oto [mobil], radio, jam, dan mesin ketik. Studio foto serta pabrik es, sirop, dan limun juga ada.

Lintong Mulia Sitorus, Sekjen PSI Asal Pematang Siantar

Lintong Mulia Sitorus saat bertemu Presiden Josef Broz Tito, di Beograd, tahun 1953. (Foto: ijimm/Sejarah Kebudayaan Batak)

Di masa pendudukan Jepang, Lintong Sitorus bersama dua sahabatnya—T.B. Simatupang dan Bismarck Oloan Hutapea—menyewa rumah di Tanah Tinggi, Jakarta. Tujuannya agar lebih bebas mengadakan kontak-kontak dengan berbagai pihak yang dari hari ke hari makin resah dengan keadaan saat itu. Oleh kalangan masyarakat Batak yang bermukim di Jakarta masa itu, tiga sekawan itu dijuluki De Drie Musketiers (Tiga Prajurit yang Bersahabat).