Membaca Gerakan Menko Luhut Binsar Panjaitan pada Januari 2021

Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (kiri) bersama Menteri Luar Negeri China Wang Yi sedang menikmati pesona alam Kaldera Toba. (dokumentasi Instagram@luhut.panjaitan)
Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (kiri) bersama Menteri Luar Negeri China Wang Yi sedang menikmati pesona alam Kaldera Toba. (dokumentasi [email protected])

Oleh MP Tumanggor*

JAKARTA, Kalderakita.com: Pandemi Corona telah menggerogoti hampir semua sektor kehidupan, khususnya ekonomi. Ketidakpastian terus membayang walau vaksin sudah datang. Harapan pun masih rapuh dalam genggaman karena korban masih terus berjatuhan.

Dalam kondisi seperti itu sulit bagi kita untuk tetap bersemangat dan penuh harap melakukan yang terbaik bagi bangsa ini sambil terus menyemangati sesama. Karena itu tidak banyak orang bisa terus gigih melakukannya. Salah satu di antara yang sedikit itu adalah Luhut Binsar Panjaitan (LBP) yang mengemban tugas sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi.

Kualitas kepemimpinan LBP sudah teruji ketika berkarir di militer. Pun saat menjadi pengusaha sukses dan menteri perindustrian di zaman Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pastilah catatan gemilang itu menjadi pertimbangan utama Presiden Joko Widodo (Jokowi) sehingga menjadikan dia menteri dan kemudian menteri koordinator (Menko).

Kita tahu bagaimana kualitas Presiden Jokowi sebagai pemimpin-negarawan yang selalu mengutamakan kepentingan rakyat Indonesia. Mutu kepemimpinan itu ditunjukkannya antara lain dengan memilih LBP sebagai eksekutor program-program yang pro-kepentingan rakyat, termasuk penanggulangan pandemi Covid-19.

Mungkin untuk menilai kualitas LBP kita hanya perlu melihat apa yang dilakukannya selama Januari 2021 saja.

Pertama, diplomasinya dengan Cina, khususnya lewat pertemuan dengan Menlu negara itu di Danau Toba. Dia berhasil meyakinkan para investor dari negeri tirai bambu agar membangun hotel, rumah sakit bertaraf internasional, dan sentra tanaman herbal (bekerjasama dengan universitas ternama dari Cina) di sekitar Danau Toba. Pula, Cina bersedia membiayai jalan tol dari Sibisa hingga Sibolga.

Kedua, LBP memberi pikiran dan hatinya pada pengembangan pendidikan dan kesehatan melalui Yayasan Universitas Nomensen dan Yayasan Rumah Sakit Nomensen. Juga, pada penyelesaikan masalah dana pensiun HKBP. Kedua langkah ini tidak hanya akan menimbulkan dampak pelipat (multiplier effect) pada tataran ekonomi lokal di kitaran Danau Toba tetapi juga pada lingkup nasional sebab kawasan ini 1 dari 10 tujuan wisata prioritas Indonesia.

Ketiga, LBP tidak hanya berpikir untuk Batak, Danau Toba, dan HKBP saja. Lihatlah: ia juga memfasilitasi terwujudnya hibah tanah 10 hektar di Sentul, Bogor, untuk pembangunan Universitas Nadhatul Ulama yang diimpikan presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid.

Di usianya yang ke-74 tahun dan di tengah kesibukannya yang luar biasa LBP pun bersedia dan mau memberi hatinya untuk menjadi ketua umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI). Tujuannya tentu tak lain dari mengedepankan atlit Indonesia di ajang dunia.

Sebagai seorang Batak Kristen, tidaklah berlebihan jika saya menilai LBP sebagai sosok yang telah menjadikan dirinya khotbah yang hidup “Jadilah garam dan terang dunia”, kata ayat Alkitab. Demikianlah dia: menjadi berkat dan teladan bagi masyarakat luas.

Mari kita doakan agar selama dalam jajaran pemerintahan Presiden Jokowi, LBP tetap sehat dan bersemangat. Termasuk dalam menanggulangi pandemi Corona ini. Dengan demikian ia akan bisa terus mengantarkan bangsa ini ke arah kemajuan yang lebih mengesankan lagi.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial-budaya