Pergeseran Pemahaman Agama

Natal juga dirayakan oleh 81 persen umat non-Kristen di Amerika Serikat (foto: Hidayatullah)
Natal juga dirayakan oleh 81 persen umat non-Kristen di Amerika Serikat (foto: Hidayatullah)

Tulisan-2

JAKARTA, Kalderakita.com: Ada lima gagasan utama yang ditulis oleh Denny JA dalam bukunya 11 Fakta di Era Google: Pergeseran Pemahaman Agama, dari Kebenaran Absolut Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama.

Dua gagasan telah dibahas pada tulisan sebelumnya. Gagasan tiga: Hari besar agama mulai juga dirayakan oleh penganut agama lain.

Pada tahun 2013, Pew Research Center mencatat betapa banyak sekali penganut agama lain, juga yang tak beragama, di Amerika Serikat tak hanya hadir dalam hari raya agama lain.

Mereka juga menjadi tuan rumah perayaan Natal.

Di samping dirayakan oleh umat kristiani, kini Natal juga dirayakan oleh 81 persen umat non-Kristen di Amerika Serikat.

Yang dimaksud non-Kristen di sini, tak hanya pemeluk agama Budha, Hindu, Bahai, juga Islam. Tapi juga mencakup mereka yang tak lagi percaya pada agama.

Bahkan mereka yang tak lagi percaya pada konsep Tuhan yang dibawa oleh banyak agama besar. Dengan suka cita mereka ikut menyanyikan lagu Natal. Mereka menghias ruang tamu dengan pucuk pohon pinus. Kadang saling bertukar hadiah.

Hussein Allouch, tokoh muslim di Denmark, juga mengundang para sahabat dari berbagai keyakinan datang ke rumahnya, merayakan Natal.

Apa yang bisa dibaca dari data itu?

Di sebagian segmen masyarakat post-modern kini sudah melampaui tahap kritis, skeptis, dan anti agama. Mereka mengambil sisi positif hari besar agama sebagai pengalaman kultural belaka.

Sebagian tetap tak percaya agama Kristen. Bahkan tak percaya pada agama mana pun. Tapi agama tak lagi mereka dekati dengan pendekatan benar atau salah.

Tahap itu sudah mereka lampaui. Mereka mendekati agama sebagai kekayaan budaya saja. Dan kekayaan budaya itu milik semua manusia.

Ilustrasi: Kompasiana

Di sisi lain, bangkit pula persepsi akan pentingnya komunitas, kebersamaan, persahabatan, dan perayaan.

Banyak temuan dari studi mengenai happiness menekankan itu.

Hubungan personal antar-individu, yang hangat, yang saling menghargai, itulah sila pertama kebahagiaan.

Bukan harta. Bukan kekuasaan. Bukan jabatan. Yang membuat bahagia adalah hubungan interpersonal.

EMPAT: Setelah pendiri agama tiada, hilang pula otoritas tunggal agama. Percaya pada agama menjadi percaya pada tafsir siapa.

Jumat, 12 Januari 2018 adalah hari yang bersejarah di Arab Saudi. Dan tentu saja bagi Areej Al Ghamdi, salah satu perempuan di negeri itu yang menggemari sepak bola.

Hari itu, di Stadion King Abdullah, dua tim sepak bola bertanding: Al Ahli versus Al Batin.

Areej adalah satu dari 300 perempuan Arab Saudi yang merasakan pengalaman pertama menonton sepak bola langsung di stadion.

Sebelumnya, wanita menonton bola di stadion dilarangan keras.

Mengapa aturan yang diyakini sebagai aturan agama itu bisa berubah? Apakah itu bagian dari ajaran, atau hanya interpretasi terhadap ajaran?

Atau ini hanya kultur lokal saja? Atau ini hanya aturan pemerintah yang tak ada hubungannya dengan agama?

Atau ini hanya cabang kecil dari aturan agama yang boleh berubah? Lalu apa inti dari agama yang tak boleh berubah?

Bagaimana pula memisahkan agama dengan kultur lokal setempat ketika sudah bercampur dalam praktik budaya yang panjang? Itu agamakah? Itu kulturkah?

Itu gabungan keduanyakah? Itu bolehkah dari kaca mata doktrin agama?

Toleransi lintas agama di Bali (foto: Bali Express)

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu selalu muncul dalam kasus seperti ini. Tak bisa terhindari bahwa masalah agama adalah masalah interpretasi. Ini semata masalah tafsir.

Dua ahli yang sama-sama mengerti kitab suci, sama-sama meyakini satu agama, sama-sama berniat tulus menjalankan agama karena tanggung jawab individu pada Tuhan, bisa berakhir dengan interpretasi yang berseberangan.

Karena itu, diperlukan cara pandang baru dan kearifan dalam memahami dan memosisikan agama dan segala ajaran turunannya.

Apakah yang boleh di satu tempat dan satu waktu, bisa saja dilarang di tempat dan waktu lainnya?

Semua tergantung argumen dan konteks yang melingkupinya. Kadang kala itu tergantung cara pandang penguasa terhadap ajaran agamanya.

LIMA: Intisari ajaran 4.300 agama.

Apa yang bisa disebut sebagai intisari dari agama-agama yang hingga kini tercatat berjumlah 4.300?

Sejarah homo sapiens juga adalah sejarah pencarian makna hidup. Begitu banyak agama dan kepercayaan yang dilahirkan. Sebagian juga sudah terkubur karena tak lagi sesuai dengan kesadaran zaman.

Sumber: Facebook Denny JA (konsultan politik dan pegiat media sosial)