Mengembalikan Keeksotikan Kawasan Pante, Parapat

Parapat terus berbenah agar tak semrawut (foto: P Hasudungan Sirait)
Parapat terus berbenah agar tak semrawut (foto: P Hasudungan Sirait)

(Tulisan-2)

PARAPAT, Kalderakita.com: Pante atau Marihat, begitu orang Parapat menyebutnya. Semenanjung ini membentang dari kiri Hotel Parapat [kini: Inna Hotel] hingga ke Ujung. Pasir putih menghampar di beberapa titik; bagian terbaiknya  ada di sebelah warung Telaga Biru dan di bawah Istana Presiden alias Passsanggrahan Negara. Selain landai, airnya  jernih.  

Seperti Tuktuk di Pulau Samosir, kawasan Pante eksotik. Sebab itulah sejak tahun 1930-an perusahaan perkebunan Hindia Belanda (onderneming) mendirikan sejumlah tempat peristirahatan di sana. Sampai sekarang bangunan itu masih berdiri kokoh. Di antaranya adalah Istana Presiden (sekarang bernama Passanggrahan Bung Karno), Bungalow Gunung Pamela, dan Wisma Deli. Adapun Wisma Dolok Martimbang, ia  sudah dipermak menjadi kekinian sehingga kehilangan wajah aslinya.

Di antara semua bangunan, tentulah Istana Presiden yang paling ikonik; hanya Hotel Parapat yang bisa disetarakan dengannya. Selain berbentuk vila bergaya Eropa, di ketinggian ia langsung bermuka-muka dengan Danau Toba.  Di kakinya pantai menghampar. Tangga semen yang lumayan panjang menjadi lintasan menuju ke sana.

Bangunan ini bersejarah betul. Trio pemimpin Indonesia—Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Agus Salim—pernah menjadi penghuninya yakni saat Belanda melangsung agresi militer untuk kali kedua. Menjadi orang buangan, masa pengasinganmereka berlangsung sejak 4 Januari hingga 9 April 1949.

Pante terletak di bawah jalan raya. Di sisinya pepohonan bertegakan termasuk mangga dan gala-gala [pohon besar bercabang banyak serta berbuah kecil-keras]. Mereka yang sedang menikmati air danau akan rehat di bawah kerindangan dengan ngampardi tikar sewaan yang ditaruh di atas tanah.

Kawasan Pante yang eksotik (foto: P Hasudungan Sirait)

Saat bercumbu dengan air mereka bisa mengenakan ban atau sepeda air. Kano yang pernah berjaya, sudah tak tampak lagi sejak tahun 1980-an. Begitu juga speed boat berbadan kayu; telah digantikan fiber glass

Di awal 1970-an pemerintah menghadirkan Conference Hall. Besar dan bertingkat 2, letaknya di tanah dengan kontur tebing di sebelah rumah dinas camat; dari Hotel Parapat sekitar 150 meter saja lurus ke kanan.  Sesuai namanya, fungsinya adalah balai rapat raksasa. Sejumlah pertemuan akbar kemudian berlangsung di sana termasuk yang dihelat oleh The Pacific Asia Travel Association (PATA) dan Dewan Gereja-Gereja se-Indonesia (DGI; kini PGI).

Tak syak lagi, keberadaan Conference Hall merupakan garis bawah dimensi kenasionalan sekaligus keinternasionalan Parapat sebagai daerah tujuan wisata di masa itu.

Hingga penghujung 1980-an kawasan Pante terbilang asri betul. Turis bule termasuk yang menyukainya. Pengunjung masih bisa leluasa berjalan dari ujung ke ujung dengan mata yang bebas disapukan ke arah danau. Di beberapa titik memang sudah ada kapling yang dikuasai keluarga tertentu tapi belum berlapak permanen.

Terus berbenah (foto: P Hasudungan Sirait)

Pada Minggu dan hari-hari besar pedagang mangga berjualan di sisi kanan jalan raya. Payung kertas menjadi peneduhnya. Di rembang petang mereka akan mengemas barang dagangan dan membersihkan tempat jualan. Maka, begitu malam menjelang tempat itu akan lengang seperti sediakala.

PENCAPLOKAN

Entah siapa yang memulai, pengkaplingan kemudian terjadi di sepanjang pantai. Petak-petak parmanen—berlantai yang diplur, beratap seng, dan berdinding yang tingginya minimal selutut orang dewasa—berhadiran di sana. Kalau tidak, ya patok-patok yang dihubungkan begitu saja dengan tali rafia.

Di sejumlah tempat kapling itu bahkan sampai 2 sisi sehingga yang tersisa cuma gang sempit [lihat foto]. Orang tak bebas lagi berjalan ke sana-sini, dengan sendirinya. Sumpek, semrawut,  dan jorok, itu kesan yang mencuat.

Kakacauan suasana diparipurnakan  oleh air danau yang sudah kian keruh dan berlumut laksana perdu. Pendangkalan akibat perusakan hutan di kitaran Danau Toba serta limbah  keramba jaring apung yang terus  membanyak—yang terbesar tentu adalah milik perusahan Swiss bernama PT Aquafarm Nusantara—serta runtah dari rumah tangga dan restoran menjadi penyebab utama kedangkalan-kekeruhan.

Kesemrawutan Pante bertambah parah sejak gelombang reformasi mengalun di negeri kita. Pendudukan tanah negara oleh rakyat berlangsung begitu Presiden Soeharto tumbang pada Mei 1998. Di sisi kiri jalan—namanya Jalan Pora-pora—bermunculan kios permanen. Entah bagaimana ceritanya, tanah di sana bisa  diperjual-belikan oleh pihak tertentu kendati milik negara. Meski ilegal, peminat transaksi ini ternyata banyak. Kios-kios cindramata berukuran serba mungil akhirnya berderet di sepanjang jalan raya berbentuk huruf U yang mengitari  Conference Hall. 

Pengkaplingan terjadi di sepanjang pantai (foto: P Hasudungan Sirait)

Kalau hanya yang di kiri jalan raya yang dicaplok masih lumayan. Yang di kanan juga sama. Alhasil, pandangan orang yang berada di jalan raya ke arah danau pun terhalang, selain kesesakan yang menghadang. Begitupun, pembiaran oleh otoritas negara berlangsung hingga jauh hari kemudian. Ajaib, bukan?

Masih ada keajaiban lain. Di dekat Telaga Biru semula terdapat aquarium milik negara. Orang Parapat menyebut fasilitas berbayar yang disukai turis ini Aquarium. Di bagian depannya ada kolam.  Di tengah kolam ada ruangan  berongga berbentuk oktagon; ikan-ikan menjadikannya tempat berlindung. Dari puncak kubahnya air memancur. 

Di belakang kolam berdiri ruang pamer dari beton. Seperti Sea World yang di Ancol, Jakarta,  dia hanya saja bentuknya jauh lebih bersahaja dan ukurannya mini. Di  dalam aquarium berdinding kaca dipajang ragam ikan yang di masa itu menjadi penghuni Danau Toba. Dekke mas [ikan mas], dekke jahir [mujahir], pora-pora, asasa, undalap, sibahut [lele],  ikkan sapet [sepat], dan  haruting [gabus], di antaranya. Ihan alias dekke Batak tak ada sebab habitatnya tak sembarangan.

Entah bagaimana jalan ceritanya, Aquarium ini diratakan dengan tanah oleh pihak tertentu di masa euforia reformasi. Di atasnya lantas didirikan bangun milik pribadi. Sampai  sekarang tempat bersejarah yang sama sekali sudah kehilangan identitas lamanya telah menjadi peruntukan rumah tinggal yang berkedai dan bertempat parkir yang dikomersilkan. Perusakan aset negara dan pelaknatan sejarah-panjang terjadi dan dibiarkan begitu saja sampai hari ini. Ajaib, bukan?

Pante telah diacak-acak dan otoritas negara tidak bertindak karena memang sangat jarang hadir. Pembiaran  berlangsung sampai 20-an tahun. Kalau dulu elok-asri, menjadi sangat lain ia, kemudian. Sesak dan dekil. Perairannya dipadati oleh kapal kayu, speed boat, skuter, dan yang lain. Tentu saja serba berlimbah buangan mesin pula. Kekecualian hanya di kitaran Istana Presiden.  Tapi sisi kiri-kanan pantainya pun sudah dicaplok orang juga.

Dengan situasi seperti itu wajar saja kalau Pante kemudian kehilangan pamornya. Tempat ini hanya didatangi oleh pelancong yang tak mementingkan mutu sebuah obyek wisata.   Kaum pendamba kenyamanan, keasrian, dan kebersihan akan berpaling ke kawasan lain. Ke Simarjarunjung yang masih belum ramai atau ke Pulau Samosir, terutama.

Berbenah supaya tak semrawut (foto: P Hasudungan Sirait)

Awak  kapal dan calo di Pante sendiri selalu berseru-seru “Tuktuk….Tuktuk, Tomok…,” ke para pengunjung yang baru tiba. Akibat rayuan itu sebagian tamu pun berpaling sebelum menikmati betul alam Parapat. Begitu merasakan atmosfir Tuktuk atau Tomok yangmemang masih lebih terjaga dan alami, mereka tak terpincut lagi oleh Pante. Begitulah: untuk seterusnya tempat ini—seperti halnya kawasan Parapat lainnya—menjadi persinggahan saja.

Sebuah ironi besar, tentunya: sadar atau tidak, orang-orang yang selama ini mencari penghidupan di  Pante telah menggali kuburnya sendiri. Tentu saja tak hanya mereka yang rugi kemudian melainkan hampir seluruh warga kitaran Parapat-Ajibata. Soalnya sejak dulu tempat yang bernama lain Marihat ini merupakan roda perekonomian penting untuk seluruh kawasan.

Lingkungan Pante harus dipulihkan demi kemaslahatan banyak orang. Pelayan wisatanya perlu dilatih sehingga senantiasa mementingkan layanan terbaik (service excellence). Warga Parapat, termasuk yang berdiaspora pun, umumnya berpengharapan demikian. Kembalinya keeksotikan wilayah ini merupakan dambaan lama mereka.