Tari Maduda, Ucapan Syukur Khas Simalungun

Tari Manduda khas Simalungun (foto: seringjalan)
Tari Manduda khas Simalungun (foto: seringjalan)

JAKARTA, Kalderakita.com: Banyak cara untuk mengucap syukur saat panen raya. Bagi masyarakat Simalungun, Sumatra Utara, tari adat Manduda merupakan wujud ekspresi rasa kebahagiaan masyarakat setempat saat pesta panen.

Tarian Manduda merupakan gerak tari menumbuk padi hingga menjadi beras. Tradisi dan budaya ini masih terus dilestarikan.

Dilansir dari Kompas, tari Manduda menceritakan kehidupan petani wanita yang tengah gembira karena berhasil panen. Gerak tari tarian ini mewakili aktivitas saat menanam hingga menuai padi.

Menurut sebuah referensi, tarian ini diciptakan oleh Taralamsyah Saragih pada 1957, seorang seniman Batak.

Ada juga yang mengatakan tari adat Manduda sebenarnya sudah ada sejak zaman Kerajaan Simalungun. Awalnya adalah ilah yang merupakan lagu rakyat masyarakat Simalungun, dinyanyikan oleh sekelompok orang dengan nada yang dikeluarkan dari tepukan tangan.

Kemudian dari ilah tersebut, masyarakat Simalungun mengubahnya ke dalam sebuah lagu (doding) yang berjudul Manduda.

Doding Manduda ini kemuidan menjadi pengantar tari Manduda yang mengandung pesan agar kaum muda menghormati kaum yang lebih tua. Selain itu juga menggambarkan kebersamaan dalam mengerjakan berbagai pekerjaan di lingkungan masyarakat, salah satunya ketika panen tiba.

Gerak tari Manduda

Berdasarkan jurnal Teknik dan Gaya Tari Manduda pada Masyarakat Simalungun (2013) oleh Nurul Aprila, untuk menarikan tarian ini terdapat beberapa teknik gerak yang menjadi aturan dari tari Manduda.

Pada dasarnya gerak tari Manduda adalah gerakan ketika di sawah, seperti memotong, mengirik, dan menampis.

Beberapa nama motif gerakan tari Manduda, yaitu:

  1. Mangunje Mangodak, gerakan kedua tangan menyilang di depan dada dan kedua tangan di kiri dan kanan dengan membolak-balikan telapak tangan.
  2. Ser-ser, gerakan bergeser dengan cara membuka tutup telapak kaki.
  3. Menapih padi, gerakan timpuh sambil memegang suri-suri
  4. Membuka roha, gerakan timpuh badan condong ke depan sambik mangadok ke kidi dan kanan.
  5. Nahei kaki, gerakan silang kaki sambil memegang suri-suri
  6. Manduda, geraka khas seperti menumbuk padi menggunakan lesung
  7. Ondok, gerakan menekukkan kaki ke depan seperti akan menjatuhkan pinggul dan kembali tegak, dilakukan secara berulang-ulang.

Penari tarian ini menggunakan baju adat Simalungun dengan iringan musik yang riang gembira dan lincah. Umumnya tarian Manduda dibawakan oleh penari perempuan. Namun, seiring perkembangan zaman tidak menutup kemungkinan penari laki-laki bisa bergabung.