Arifin Panigoro: Transisi Energi Terbarukan Perlu Realistis

Arifin Panigoro, pendiri Medco Grup (foto: bisnis)
Arifin Panigoro, pendiri Medco Grup (foto: bisnis)

JAKARTA, Kalderakita.com: Pendiri MedcoEnergi Group Arifin Panigoro mengatakan, pemerintah harus realistis dalam menjalankan transisi energi di Indonesia.

“Proses transisi energi ini tidak bisa dilakukan sendiri tapi harus bekerja sama dengan banyak pihak,” kata Arifin dalam webinar Future Energy Tech Innovation and Forum yang digelar Katadata.co.id, beberapa waktu lalu.

Arifin yang telah berkecimpung selama lima dekade di industri minyak dan gas bumi mendukung transisi energi karena konsumsi minyak bumi di masa depan akan menurun. Belum lagi adanya tren adopsi bahan bakar listrik pada kendaraan.

“Minyak sebenarnya tetap ada, tapi yang kecil-kecil seperti kami ini berpikir untuk berubah,” kata Arifin.

Medco telah memulai energi terbarukan saat berinvestasi di proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla yang beroperasi 2017 lalu. Berikutnya, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Bali dengan kapasitas 50 megawatt.

Arifin menyinggung mengenai tantangan saat berinvestasi di energi terbarukan. Beberapa di antaranya adalah ongkos investasi yang mahal hingga perlunya RI mengadopsi teknologi yang lebih maju.

“Soal pricing (tarif) akan terbantu jika mendapatkan dukungan keuangan. Keputusan politik dan dukungan pemerintah diharapkan,” kata Arifin.

Potensi besar EBT belum maksimal dimanfaatkan (foto: esdm)

Dalam kesempatan tersebut, jebolan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung ini juga sempat memberikan pandangan soal pengembangan kendaraan listrik hingga hilirisasi nikel. Berikut petikannya: 

Anda besar dari dunia migas, tapi banyak yang bilang kejayaan minyak tidak lama lagi. Sejauh apa prospek industri ini ?

Kalau kita bicara oil and gas, memang masih ada, bukan di Indonesia tapi di dunia. Indonesia tadinya eksportir dan anggota OPEC, tapi sekarang net importir.  Tetapi memang di perusahaan minyak manapun, dari yang independen seperti Medco sampai perusahaan negara seperti Pertamina, Petrobras, Petronas hingga perusahaan besar seperti Exxon, Chevron, Shell, dan BP sudah bicara pergeseran karena minyak di Indonesia sudah berkurang. Alasannya, pertama sumbernya terbatas. Kedua, jumlah penduduknya luar biasa membuat konsumsi kita melebihi produksi.

Bagaimana kondisi penemuan cadangan minyak baru ?

Di dunia masih ada penemuan besar. Contohnya Rusia yang menemukan cadangan minyak di dekat Kutub Utara dengan ukuran bisa sampai 100 miliar barel dari satu lapangan saja. Berarti itu 30 sampai 40 kali lebih besar dari cadangan di Indonesia yang hanya 3 miliar barel. Selain itu ada juga penemuan di Afrika. Amerika Serikat juga sempat produksi besar karena pakai teknologi fracture yang mereka sebut shale oil. Harganya sempat naik meski sekarang turun karena dianggap kurang bersih. Jadi minyak sebenarnya tetap ada, tapi sekarang yang kecil-kecil seperti kami berpikir untuk berubah karena ada istilah transisi energi.

Riset McKinsey menyatakan puncak permintaan minyak sampai 2035, setelah itu konsumsi akan turun hingga hanya 70 juta barel per hari. Apakah migas ini akan jadi sunset industry ?

Produksi sebelum Covid-19 itu mencapai 100 juta barel per hari. Adanya Covid-19 membuat harga mencapai US$ 20 per barel atau anjlok 30 sampai 40 persen meski recovery-nya cepat. Jadi urusan minyak tergantung cara kita melihatnya. Misalnya untuk airline, dia (minyak) akan susah digantikan. Tapi di angkutan darat sekarang sedang ramai electric vehicle. Dan dari sesudah 2030, konsumsi (bahan bakar) akan berkurang meski angka 70 juta barel tetap besar. Jadi harus berpikir lagi transisinya itu seperti apa.

Puncak permintaan minyak sampai 2035 (foto: tribunnews)

 

Seluruh negara memiliki target sesuai Paris Agreement. Indonesia menargetkan bauran energi terbarukan 23 persen pada 2025. Apakah akan tercapai ?

Pemerintah harus punya patokan target karena menurut saya saat ini masih di taraf mimpi dalam target 23 persen bauran (energi terbarukan) dalam 10 tahun. Kami sebagai pemain sudah mencoba masuk non oil juga. Contohnya ke geothermal, sudah masuk. Lalu kami masuk juga di Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Bali.  Kami menang (tender) di Bali itu dengan kapasitas 50 megawatt dan termasuk kontrak paling tinggi. Di waktu yang sama, Vietnam itu sudah menggunakan (pembangkit listrik) tenaga matahari berkapasitas 4.000 mw.  Makanya kita jangan mimpi terus karena sudah tertinggal jauh.

Apa tantangan mengembangkan energi terbarukan ?

Energi transisi itu harus melihat asalnya dari mana, apakah bisa diditribusikan. Kalau migas bisa pakai pipa, LNG, atau tanker. Kalau surya, harus ada sumber mataharinya. Kalau angin harus ada anginnya. Banyak yang salah pikir soal matahari. Memang panas matahari di Indonesia itu sepanjang tahun. Namun, masih kalah jauh dengan gurun seperti Timur Tengah, Afrika Utara atau AS bagian selatan. Di sana level panas mataharinya bisa dua atau tiga kali lipat dan lebih kaya dengan listrik. Sedangkan angin di wilayah Indonesa Timur luar biasa, makanya di Sulawesi sudah ada. Tapi kan konsumsi listriknya di Jawa. Makanya kami harap ada teknologi yang lebih maju agar bisa menangkap angin di wilayah pantai Selatan.

Bagaimana model energi terbarukan yang baik dikembangkan ?

Kita harus mengetahui apa yang kita punya. Kedua, realistis karena negara lain sudah duluan. Selain itu mereka berkepentingan lingkungan, jadinya pandangannya harus dunia dan bukan masing-masing negara yang dibereskan. Contohnya, di Indonesia sempat ramai ubah batu bara menjadi gas untuk gantikan LNG. Memang bagus, tapi yang bisa mengubah itu hanya di Afrika Selatan karena mereka saat itu tak punya pilihan gara-gara embargo. Jadi transisi ini tidak bisa dipisahkan dari kemajuan teknologinya, kalau enggak, kita akan ada di belakang.

Banyak yang menyampaikan secara keekonomian, energi terbarukan tidak menarik ?

Itu sangat bergantung kepada teknologi. Saya ikuti betul waktu kami menang tender di Bali itu harganya paling murah, sekitar US$ 6 per Kwh.  Sekarang dengan semakin majunya teknologi, serapan sinarnya per panel bisa lebih dan orang akan berani masuk (dengan harga) US$ 4 per Kwh. Memang soal pricing ini juga akan terbantu jika mendapatkan dukungan keuangan. Political decision dan support pemerintah diharapkan karena tarif geothermal ini sama dengan batu bara dan minyak. Harusnya ada insentif karena geothermal ini biaya investasinya tinggi.

Apa insentif yang paling realistis bisa diberikan ?

Harganya jangan disamakan, kasih premium selama sekian lama sampai (ongkos) investasinya ini diturunkan sehingga orang akan semangat. Jadi masih ada beberapa yang kurang menarik.

Transisi energi ini perlu tahapan, dulu setelah migas lalu ke batubara. Sejauh mana anda melihat prospek batu bara ke depan ?

Belum lama ini saya ikuti diskusi EBTKE dan saat itu keluar istilah agar batubara dikurangi emisinya atau carbon capture. Jadi tetap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) tapi CO2-nya di-capture. Ini ilmu yang sedang berkembang dan di ITB sudah mulai ada task force-nya. Kami juga mau ikut dan ada juga kerja sama dengan perguruan tinggi di Jepang.

Dengan kata lain, kita harus tetap melewati batu bara sebelum beralih ?

Itu realita di Indonesia, 50 persen masih pakai batubara dan kita juga penghasil batubara. Masalahnya, terlalu kotor sehingga carbon capture ini satu ilmu yang buru-buru akan kami kuasai supaya bisa menggunakan pembangkit yang bersih.

Berarti realitanya perusahaan tidak bisa meninggalkan batu bara secara seketika ?

Bukan hanya Indonesia tapi Tiongkok dan India juga. Mungkin yang sangat modern dan bahannya melimpah itu negara di Eropa Utara seperti Denmark.  Mereka mau bikin (pembangkit listrik) yang basisnya angin, bukan hanya buat dia tapi diekspor juga. Sedangkan di Indonesia lain karena potensi geothermal lumayan banyak tapi investasinya besar.

PLTP Sarula (foto: pans bumi news)

 

Termasuk di Sarulla dan Ijen ?

Sarulla sudah jalan, sedangkan Ijen baru mulai.

Prospek ekonomi dari dua pembangkit itu bagaimana ke depannya ?

Menurut saya karena kita mulai dari jasa pengeboran, itu salah satu kuncinya karena bagian itu paling berperan di geothermal.

Masih ada keluhan bahwa geothermal Indonesia belum berkembang meski potensinya besar. Mengapa bisa terjadi ?

Karena investasinya paling mahal dari semua. Kalau kita bangun pembangkit dari gas itu hanya US$ 600 per Kwh, sedangkan panas bumi itu US$ 5.000 dolar per Kwh. Itu hampir 10 kali lipat dan membuat orang berpikir dua kali kapan balik (modal).

Dengan kata lain, apakah PLTP tetap harus dikembangkan ?

Harus, tetapi digabung dengan pembiayaan yang lebih ekonomis. Karena ini sumber yang sangat bersih. Selain itu sekali ketemu, (sumber energinya) akan terus ada kecuali ada gangguan. Contohnya Kamojang, berapa puluh tahun tetap keluar uapnya.

Berbicara kendaraan listrik. Medco akan membangun stasiun pengisian, apa visinya ?

Itu bagian pendorong karena kalau nanti kendaraan listrik berkeliaran maka perlu charging station. Dalam rangka itu tentu PLN yang paling berkepentingan, lalu Grab juga. Makanya kita bertemu lah untuk segera memulai arahnya ke mana. Selain itu kami kan produsen tembaga dan tembaga merupakan salah satu bagian penting mobil listrik. Makanya ujung-ujungnya akan tersambung.

Berarti Medco menyiapkan end-to-end business terkait kendaraan listrik ?

Tidak harus, tapi ada nyambung-nyambungnya lah karena kita semua mengarah ke sana kan. Tidak maksud end to end tapi kami ingin ada di situ sedikit-sedikit. Dan kalau menjadi penyedia charger kendaraan listrik itu keniscayaan.

Kalau begitu, Medco akan fokus di bagian mana dari bisnis ini ?

Bisa dibilang kami ingin dorong dari sisi kelistrikan lewat MedcoPower. Kami serius di power, karena kami ada geothermal yang menjadi andalan. Begitu pula energi terbarukan lain seperti yang di Bali sudah dapat, lalu di Sumbawa untuk keperluan sendiri.

Tesla ternyata memilih India sebagai pabrik mobil listrik. Bagaimana anda melihat ini ?

Elon Musk ini bukan tokoh otomotif tapi teknologi. Dia jadi orang paling kaya di dunia dan bisa memilih dengan cerdik.  Kalau dibandingkan antara Indonesia dengan India, dari jumlah penduduk ya dia pasti memilih India. Kedua, suka tidak suka, wawasan industri India itu rapi banget. Contohnya harga obat di sana itu bisa 10 persen (dari negara lain), begitu efisien dan produktif.  Jadi kalau kendaraan listrik kita sudah susah melawan India. Tapi kan kendaraan listrik bukan saja (produk milik) Elon Musk saja.

Elon Musk, inovatif dan futuristik (foto: digstraksi)

 

Sedangkan pemerintah menyiapkan nikel di Morowali, menurut anda bagaimana prospeknya ? apakah strategi ini sudah tepat ?

Menurut saya itu langkah yang tepat untuk Tsingshan karena nikel akan sangat berharga dan ke depan akan ditingkatkan lagi menjadi industri baterai. Tapi kita juga harus pandai melihatnya dan menghitung lagi untuk nilai tambah atau keuntungan buat Indonesia. Boleh-boleh saja kan kita juga ikut masuk ke dalam bisnis baterainya.

Jika anda menjadi regulator, apa yang akan anda lakukan untuk mempercepat transisi energi ?

Jadi dari sisi pengembangan sangat terbuka. Dan Indonesia harus diakui bukan yang paling depan tapi mengikuti (negara lain). Jadi jika bicara kebijakan itu (harus) sangat terbuka dan kooperatif dengan dunia.

Apakah hilirisasi tambang saat ini sudah on the track ?

Ada peningkatan nilai tambah. Karena saya swasta dan tahu perkembangan swasta di Indonesia, saya tahu benar Pak Jokowi sangat menghitung kemampuan swasta. Yang harus hati-hati itu kalau sudah ada yang besar maka akan ada keinginan mengontrol, itu dari manapun baik perusahaan maupun (suatu) negara) dan tendensi itu ada. Harus pandai-pandai membuka pasar bahwa ini terbuka bagi semua orang daripada memakai jatah lalu ada permainan yang tertutup. Kalau diadu secara terbuka maka kompetisinya akan sehat.