Merawat Asa Kopi dari Gerbang Kaldera Toba

Mimpi petani kopi jadikan Desa Sait Buttu sebagai sentra kopi yang mendunia (foto: Rano Kambo Hutasoit)
Mimpi petani kopi jadikan Desa Sait Buttu sebagai sentra kopi yang mendunia (foto: Rano Kambo Hutasoit)

PEMATANG SIDAMANIK, Kalderakita.com:  Industri kopi di Kabupaten Simalungun makin bergeliat. Hal ini ditandai dengan asa petani merawat kopi, kemunculan merek-merek kopi lokal, hingga berdirinya kedai-kedai kopi premium.

Kenimatan cita rasa dan selera Kopi dari Simalungun ini membuat pemerintah mengakuinya dengan mendapat hak paten geografis dari Kemenkum HAM pada tanggal 24 April 2015, yang disebut Arabika Sumatra Simalungun.

Untuk berkunjung ke kawasan Simalungun, Anda bisa menghabiskan waktu sekitar satu jam berkendara dari pusat Kota Pematangsiantar. Menuju Danau Toba, rute Sidamanik menjadi pilihan. Bukan tanpa alasan, menyeruput kopi dengan pemandangan hamparan Kebun Teh Sidamanik itu sangat menyerukan dan membuat hati ketagihan. Kecamatan Pamatang Sidamanik ini juga dikenal sebagai sentra kopi di Kabupaten Simalungun.

“Dua tahun terakhir ini menjadi paradigma baru bagi petani kopi di Sait Buttu Pematang Sidamanik. Petani kembali semangat dan merubah pola pikirnya,” jelas Ketua Kelompok Tani Maju Jaya Slamet Suryadi (32), Minggu 7 Maret 2021, ditemui di Pembibitan Kopi Arabika partisipatif binaan Starbuck di Desa Sait Buttu.

Dia bercerita, petani kopi di Pematang Sidamanik dulu sangat sejahtera dan bisa mengirimkan anaknya untuk sekolah ke perguruan tinggi. Namun kini, menurut dia hanya tinggal cerita. Petani kopi Pematang Sidamanik makin terjepit.

"Dulu petani bisa bangun rumah hingga sekolahkan anak hanya dari kebun kopi. Mengapa ini tidak diulangi kejayaannya. Saya yakin, petani kopi di Simalungun khususnya di Pematang Sidamanik bisa bangkit kalau bisa menerapkan sistem tanam dan bibit yang baik. Artinya bibit yang tersertifikasi baik itu dari pemerintah maupun pihak swasta," jelasnya.

"Pembibitan kopi partisipasi ini merupakan binaan Starbuck dengan harapan kopi petani lebih baik. Pembibitan saat ini sudah tahap ketiga. Saat ini ada 45.000 bibit yang siap tanam dari total 57.000 bibit. Harapannya tidak ada lagi kopi petani yang tidak produktif. Ada 3 varietas yang tersedia, Andungsari, Sigalar Utang dan Komasti," tambahnya.

Petani Desa Sait Buttu Saribu sudah banyak berubah dalam berbudidaya kopi (foto: Rano Kombo Hutasoit)

Lebih lanjut dia bercerita, produksi kopi daerahnya bisa meningkat dan memiliki kualitas yang bisa bersaing dengan kopi asal daerah lain.

 “Tiga bulan ke depan, bibit ini akan didistribusikan kepada petani. Harapannya, kopi Sait Buttu, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun dapat naik level baik kuantitas dan kualitas,” harap Slamet, yang juga Ketua Karang Taruna Kecamatan Pamatang Sidamanik tersebut.

Slamet mengajak kami untuk berkeliling area kebun dan pembibitan. Berjalan kaki sekitar 20 menit dari pembibitan, Slamet kemudian menunjukkan lahan kopinya.

Tak seperti kebun kopi umumnya, pengunjung tak boleh berisik, tak boleh sembarang jalan, tak boleh asal pegang, pokoknya banyak pantangan. Bukan magis, tapi karena di sela-sela kebun kopi ada budidaya lebah madu yang bisa mengundang kumpulan lebah apabila diganggu.

“Terbalik ketika petani menjadikan kopi sebagai tanaman pelindung seperti untuk cabai dan tanaman lain. Aslinya, kopi itu tanaman hutan,” terang Slamet sembari memperlihatkan kopi bibit hybrid dari Puslitkoka Jember, namanya Komposit Andung Sari Tiga (Komasti).

Selain jenis Komasti, di daerah ini juga ditemukan varietas kopi Sigalar Utang, kopi asli Sumut. Menurut Slamet, kelemahan kopi Sigalar Utang itu di persoalan karat daun, penyakit yang paling ditakuti petani kopi.

Pusat kebun kopi Sait Buttu ini sendiri berada di ketinggian 1079 mdpl, sementara untuk wilayah Sidamanik  dan Pematang Sidamanik berada di ketinggian 1050 – 1200 mdpl.

Petani di Desa Sait Buttu Saribu itu sudah banyak berubah dalam hal budidaya kopi. Petani banyak belajar tentang menanam kopi yang baik dan benar.

Pergeseran pola bertani kopi dari konvensional ke pola modernisasi tidak terlepas dengan kehadiran dan dukungan pihak swastamaupun pemerintah. Salah satunya, hadirnya bibit baru seperti Komasti, yang saat ini tersebar sekitar 200.000 batang.

Untuk lahan yang datar, petani juga sudah menemukan ilmu baru yang disebut dengan tanam pagar ganda segitiga (PGS), artinya kopi lebih banyak populasinya sehingga hasil panen dapat lebih dimaksimalkan.  Peningkatan produktivitas berbanding lurus dengan populasi dan perawatan yang baik.

Slamet Triadi, Ketua Kelompok Tani Maju Jaya Desa Sait Buttu Pematang Sidamanik (foto: Rano Kambo Hutasoit)

 “Pengalaman saya untuk budidaya kopi Komasti ini, 1 batang kopi bisa menghasilkan 1 kg green bean per tahun. Kondisi saat ini, kopi yang siap panen ada 500 batang maka bisa hasilkan 500 kg greenn bean per tahun. Dengan analisa harga green bean yang terjun bebas di masa pendemi covid19 ini, Rp40 ribu per kg green bean, maka saya dapat menghasilkan sekitar Rp20 juta per tahun. Memang ini berbeda dengan sebelum pendemi, dimana green been dibandrol Rp60 per kg," ungkap Slamet.

"Perawatan yang tidak kalah penting, pembuatan lobang rurak untuk tempat kompos alami. Lobang rurak itu dibuat di sekitar tajuk daun. Ini membantu petani agar tidak tergantung dengan pupuk kimia. Dengan begitu kopi akan tetap produktif dan dapat bertahan lama. Dengan perawatan yang baik, bibit Komasti ini dapat bertahan antara 25 hingga 35 tahun," tambahnya.

Lebih lanjut Slame menjelaskan sebagai pelindung tanaman kopi, bisa menggunakan tanaman Vege 79 yang bisa menahan panas langsung ke tanaman kopi.

"Perawatan selanjutnya, pembuatan sistem penaung yang tujuannya untuk melindungi tanaman kopi dari panas. Saya menanam vege 79. Daun vege 79 berbentuk jari, jika panas maka tidak langsung ke kopi, saat hujan juga tidak langsung ke bunga yang dapat mengakibatkan rontok bunga," katanya.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Pamatang Sidamanik Mahdani Sinaga SP menjelaskan berdasarkan data BPS tahun 2020 jumlah luasan lahan kopi di Kecamatan Pamatang Sidamanik sekitar 1.620 hektare, dengan prediksi bahwa hanya 30 % lahan produktif.

Bibit kopi dari Jember (foto: Rano Kambo Hutasoit)

Asumsi dengan pola tanam konvensional, 1 Ha itu dapat ditanami sekitar 2000 batang kopi. 1 batang kopi itu biasanya menghasilkan sekitar 700 gr per tahun.

“Produktivitas kopi di Pamatang Sidamanik itu kisaran 680,4 ton per tahun. Artinya produktivitas yang belum maksimal,” jelas Mahdani.

Kopi dari Simalungun ini telah mendapat hak paten secara geografis dari Kemenkum HAM pada tanggal 24 April 2015 yang disebut Arabika Sumatra Simalungun.

Dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas kopi yang memadai maka petani bermimpi akan dapat terhubung langsung dengan gerai kopi nasional dan internasional.  Sebagai bentuk komitmen petani menjaga asa kopi, makan makin banyak petani yang mereplanting (tanam ulang) tanaman kopi yang tua atau tidak produktif. (Bersambung)

Editor: Dedi Gumilar