Sandiaga Yakin Kunjungan ke Desa Wisata Akan Meningkat Pascapandemi

Tren wisata pascapandemi (foto: Kompas)
Tren wisata pascapandemi (foto: Kompas)

JAKARTA, Kalderakita.com: Desa wisata diyakini akan menjadi pandemic winner seiring perubahan tren wisata pascapandemi Covid-19. Wisatawan akan cenderung memilih destinasi yang mengedepankan rasa aman, nyaman, bersih, sehat, dan yang seiring dengan keberlanjutan lingkungan.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno dalam rilis resmi, Jumat (2/4).

Ke depannya menurut Sandiaga segmentasi pariwisata akan lebih pada personalize, customize, localize, dan smaller in size. Artinya, wisatawan akan lebih memilih pariwisata pribadi atau dalam lingkup keluarga dan pariwisata dengan minat khusus, seperti wisata berbasis alam.

Wisatawan juga akan lebih memilih destinasi yang tidak terlalu jauh dan akan lebih memilih berwisata dengan jumlah pengunjung di setiap destinasi wisata yang tak terlalu ramai.

Menurut Sandiaga, semua itu pas diterapkan di desa wisata.

Ia pun yakin bahwa kunjungan ke desa wisata akan meningkat pascapandemi.

Desa Silalahi nan elok di Tepian Danau Toba (foto: detik)

Untuk itu ia berpesan agar pengelola desa wisata terus mempersiapkan diri dalam meningkatkan kapasitas, terutama dalam menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Masih Banyak PR

Pemerintah memberi perhatian khusus pelaksanaan program pengembangan desa wisata. Tujuannya agar perekonomian tingkat desa bisa lebih optimal. Bahkan pengembangan desa wisata diyakini dapat mempercepat pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.

Meski demikian, masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan agar program ini bisa menjadi budaya baru yang tumbuh di masyarakat pedesaan. Dukungan bagi program ini sangat diperlukan terutama yang berkaitan dengan sumber pendanaan, penguatan kelembagaan, dan pemberdayaan SDM.

Hingga 2024, Kemenparekraf menargetkan 244 desa telah tersertifikasi menjadi desa wisata.

“Kita harapkan desa wisata ini akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat dan membuka lapangan kerja. Dan tentunya, pengembangan desa wisata menekankan aspek berkelanjutan,” kata Sandiaga seperti dilansir indonesia.go.id.

Program prioritas

Apa sebenarnya program pengembangan desa wisata? Ini merupakan terobosan pemerintah untuk mengembangkan perekonomian di tingkat desa, sehingga masyarakat setempat bisa mengoptimalkan potensi wisata di wilayahnya.

Banyak manfaat dari program pengembangan desa wisata, antara lain kesejahteraan masyarakat meningkat dan urbanisasi (perpindahan orang desa ke kota) bisa ditekan.

Desa Wisata di Deli Serdang, banyak peminatnya (foto: tribunnews)

Memasuki 2021, Kemenparekraf telah menyiapkan program untuk menggenjot pengembangan desa wisata yang merupakan salah satu program prioritas pemerintah.

Sejak terpilih sebagai pimpinan di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif awal tahun ini, Sandiaga bergerak cepat termasuk mulai menggarap program desa wisata.

Sejauh ini ada 244 desa wisata yang terus didorong pengembangannya.

“Ibaratnya dari startup hingga menjadi unicorn,” tutur Sandi.

Hingga 2024, Kemenparekraf menargetkan 244 desa wisata sudah tersertifikasi menjadi desa wisata mandiri.

Meski demikan, masih ditemukan sejumlah kendala saat hendak menghadirkan persepsi pariwisata, terutama di tengah masyarakat dengan beragam kearifan lokalnya.

Terbatasnya visi dan persepsi itulah yang menjadi pangkal rendahnya minat dan kesadaran masyarakat mengenai pariwisata. Belum lagi soal kualitas SDM lokal.

Minimnya infrastruktur desa juga menjadi salah satu kendala program pengembangan desa wisata. Ini dapat diselesaikan dengan pemanfaatan dana desa. Tujuannya, untuk mendorong tumbuhnya desa wisata.

Peran pemda dan pemangku kepentingan di sektor pariwisata sangat dibutuhkan untuk mendorong tumbuhnya masyarakat desa berkreasi menciptakan produk wisata lokal, termasuk bagaimana produknya bisa diterima sebagai produk yang layak jual dan juga aspek pemasarannya.