Selain Potensi Alam, Waturaka Kenalkan Juga Adat Istiadat ke Wisatawan

Waturaka, Desa Ekowisata  Terbaik Nasional (foto: citrus)
Waturaka, Desa Ekowisata Terbaik Nasional (foto: citrus)

JAKARTA, Kalderakita.com: Kunjungan wisatawan mancanegera (wisman) ke Indonesia – tentunya sebelum pandemi – terus meningkat. Sepanjang 2019 jumlahnya mencapai 16,11 juta atau naik 1,88 persen dari tahun sebelumnya.

Yang menarik adalah 60 persen wisman yang datang ke Indonesia tertarik untuk menikmati wisata budaya. Data ini diperoleh berdasarkan Passenger Exit Survey (PES) yang diterbitkan Kementerian Pariwisata pada 2016.

Kunjungan untuk wisata alam menempati urutan selanjutnya, yakni sebesar 35 persen. Sedangkan wisata buatan sebesar 5 persen. Kegiatan wisata budaya yang paling diminati wisman adalah wisata perkotaan dan perdesaan, diikuti wisata budaya dan kuliner.

Ini berarti ada peluang untuk mengembangkan destinasi wisata yang mengandalkan keunikan budaya serta kekayaan adat istiadat, seperti yang dilakukan masyarakat adat di Desa Waturaka di kaki Gunung Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.

Selain mengandalkan potensi alam seperti air terjun dan air panas, nilai budaya lokal pun berhasil mereka kemas sehingga menarik wisman untuk berlama-lama di sana.

Masyarakat adat di desa Waturaka melihat peluang untuk mengembangkan ekowisata. Desa yang terletak di bawah kaki Gunung Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur tersebut memiliki pemandangan alam yang luar biasa, potensi wisata air terjun dan air panas.

Selain itu masyarakat adat di desa ini juga menjunjung tinggi nilai budaya yang diturunkan oleh leluhur mereka. Inilah yang mendorong mereka untuk mengembangkan ekowisata yang mengedepankan interaksi antara masyarakat adat dan pengunjung.

Dengan konsep wisata ini, para wisatawan diajak untuk mengenal budaya serta menjaga potensi alam di wilayah adat.

Menurut Ignasius Leta Odja, pelopor desa ekowisata di Waturaka, pengunjung dan masyarakat adat dapat berbaur dan melakukan aktivitas keseharian masyarakat. Ia juga mengembangkan berbagai fasilitas seperti homestay maupun sanggar agar dapat menjamu tamu dengan pentas budaya khas Waturaka.

“Saya menggerakkan warga menanam sayuran dan buah-buahan. Tak disangka lama-lama warga pun ikut menanam. Kami juga dirikan home stay dan sanggar musik,” ungkapnya dilansir dari Mongabay.

Kini, homestay di Waturaka telah berkembang menjadi 20 unit. Bahkan setiap homestay dapat menghasilkan Rp2-5 juta per bulannya.

Selain itu, sanggar musik dan tari dapat menambah penghasilan per orang hingga Rp 2juta per bulan. 

Sekadar informasi seperti dilansir dari Mongabay, jumlah pengunjung di Taman Nasional Kelimutu mencapai 21.088 orang hingga akhir Mei 2016. Pada tahun yang sama, terjadi peningkatan wisatawan nusantara hingga 50.324 orang dan wisatawan mancanegara sebanyak 13.184 orang.