Luhut Binsar Panjaitan: Orang Batak Perlu Lebih Kompak

Acara ‘Pertemuan Kasih Pemerhati HKBP’ di Sopo DEL, Jakarta (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)
Acara ‘Pertemuan Kasih Pemerhati HKBP’ di Sopo DEL, Jakarta (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

JAKARTA, Kalderakita.com: Saat berbicara di depan khalayak orang-orang Batak di acara ‘Pertemuan Kasih Pemerhati HKBP’ di Sopo DEL, Mega Kuningan, Jakarta, Menteri Koordinator (Menko) bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, berkali-kali berpesan agar orang Batak menjaga kekompakan.

Menurutnya tanpa itu kesuksesan akan sulit diraih. Dia juga menekankan pentingnya untuk tak berlama-lama saling boxing. Ini barangkali merujuk pada para pengacara top Batak yang kerap berseteru membela klien sehingga menjadi sorotan media.

Luhut yang berbicara selama 11 menit di hadapan sekitar 150 orang dari berbagai puak ini pandai juga bergurau sehingga sering mengundang tawa dan applause. Seorang peserta nyeletuk membenarkan apa yang disampaikan Luhut terutama saat ia menyebut, jangan terlalu merasa hebat sendiri.

Berikut ini paparan lengkap sang jenderal pensiunan yang berasal dari pasukan elit Kopassus dan telah mengecap banyak pendidikan militer dalam dan luar negeri seperti AS, Inggris, bahkan Jerman:

Desain pengembangan kawasan food estate (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)  

Proyek food estate seperti yang dipaparkan Van Basten (Van Basten Panjaitan, Tenaga Ahli Menteri Luhut Binsar Panjaitan. Red) itu magnitude-nya akan ada di 4 kabupaten; di sanalah yang akan kita kembangkan. Jadi bibitnya akan kita buat di sana.

Kita akan design sedemikan rupa...Tadi belum ditambahkan, kami juga akan kerjasama dengan Lousiana State University, AS. Profesornya sudah disini dan sudah kerja, bahkan telah memberikan masukan.

Luas kawasan Food Estate itu telah ditetapkan ada 60.000 hektar. Tapi yang bisa kita tanami kira-kira mendekati 20.000 hektar.  Jadi nanti ada di Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, di Dairi, juga di tempatnya Pak Edi ada, saya kira itu...

Jadi ada beberapa tempat yang tidak bisa ditanami karena kami commited tidak akan potong hutan. Apa yang kita lakukan adalah relinquish (melepas. Red). Saya minta kepada bapak Presiden, tanah yg dimiliki oleh TPL (PT Toba Pulp Lestari) yang sudah tidak dikerjakan akan kita ambil semua. Termasuk PT Gruti. Presiden setuju, dan sekarang lagi dimaping lagi.

Kita mau ambil tanah itu untuk dibagikan lagi ke rakyat. Jadi rakyat akan punya setifikat, memiliki [tanah] antara 1 sampai 3 hektare. Dan itu sudah berjalan sekarang.

Apa yang bapak-bapak lihat itu, itu bukan [lagi] tanah pemerintah,  sudah tanah rakyat yang mereka dapat. Dan itu tidak boleh diubah peruntukannya; hanya untuk pertanian; dan tidak boleh dijual. Jadi hanya boleh diberikan untuk anak istrinya atau cucunya. Dan tentunya nanti akan ada pemerataraan. 

Bapak Ephorus [Pdt Robinson Butarbutar.Red) saya selalu ngomong ke HKBP, ini akan terjadi kemajuan di kampung kita. Kemajuan itu terjadi dan terbuka. Jadi spiritual itu menjadi penting.

Acara kombur di Jakarta (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Apa yang telah dibikin Amang Ephorus Nommensen [yang mengutamakan] spiritualitas, pendidikan, pertanian, kemudian pasar...sekarang itu paling tidak kami sudah menyebut tiga (spiritualitas, pendidikan, dan pertanian). Pasar ini kita juga akan diperhatikan...

Nah pendidikan menurut saya sangat penting. Saya mau beri contoh, SMA Unggul DEL, itu yang masuk ITB setiap tahun rata-rat 30% dari 140 orang. Belum lagi yang masuk UI dan segala macam. Jadi hampir semua.

Sekarang IT Del (Institute Teknologi Del) itu kita kembangkan, bekerjasama dengan 4 Universitas. Kembali ke masalah SDM, karena tanpa SDM [yang mumpuni] kita akan dijajah secara... apa namanya, SDM kita kedepan, secara teknologi.

Jadi saya mohon kita ini, Batak ini kompak.

Kita masing-masing punya lebih kurang, enggak ada yang sempurna. Tidak boleh kita mengklaim alani ahu do [semua karena aku. Red], gak bisa.

Itu pengalaman saya juga di pemerintahan ini selama 7 tahun. Kenapa negeri kita ini enggak maju-maju. Karena semua ini tidak terintegrasi kerjanya. Karena merasa, ada kebanggan yang segmented sifatnya, jadi kerjanya terkotak-kotak. Nah, sekarang itu saya terobos. Saya buat terintegrasi.

Kalau terintegrasi, itu baru bisa selesai; kalau tidak terintegrasi ya tidak akan bisa selesai. Percaya sama saya. Dengan segala macam pengalaman saya; dengan segala macam yang sudah pernah saya kerjakan, saya ikuti, terbukti bahwa tanpa terintegrasi, tidak bisa jalan.

Nah orang Batak pun sama.

Orang Batak itu yang super pinter banyak. Yang lebih pinter-pinter juga banyak. Tapi yang bisa bekerjasama itu kadang-kadang tidak banyak. Jadi saya mohon, kebanggaan kita, kehebatan kita, itulah Tuhan sudah kasih talenta kepada kita.

Itu yang selalu saya bilang Mistery Of Life. Saya ulangi ya Mistery Of Life.

Kita gak tahu apa yang terjadi pada diri kita. Saya prajurit professional. Tidak ada...maaf kalau saya boleh agak sombong sedikit, tidak ada yang mengalami pendidikan pasukan khusus sebanyak saya. Ini ada anak buah saya Pak Himsa Siburian (Letnan Jenderal Purnawirawan. Red). Tapi hari ini saya ndak ngurusin itu.

Saya dulu sudah kemana-mana [mengikuti] pendidikan pasukan khusus. Ke Amerika, saya ke Inggris, ke Jerman. Apalagi?  Gak ada perwira seperti saya. Tapi Tuhan mau lain. Jadi apa yang mau disombongkan? Tidak ada. Jadi bapak ibu sekalian, kita orang Batak, kita harus melakukan refleksi juga terhadap ini.

Mungkin karen kita semua raja, akhirnya, kita gak sadar gitu, bahwa kita tuh...ya merasa jago. 

Memang betul matematika kau lebih hebat dari aku, tapi di sini mungkin aku lebih hebat dari kau. Jadi masing-masing punya kehebatan. Dan, rencana Tuhan, itu yang saya sebut Mistery Of Life. Itu kita gak tahu.

Antusias peserta zoom (foto: P Hasudungan Sirait)

Jadi saya mengimbau semua kita orang Batak, supaya kompak.

Dan kalau gak kompak, percaya sama saya, sudahlah...Kau mau jago sendiri, kalau gak ada support temen kau sana sini, forget it. Gak akan bisa, sehebat-hebatnya kamu.

Di ruangan ini mungkin saya yang tertua. Umur saya 74 tahun.

Jadi saya minta, mohon kepada teman-teman sekalian, kita melakukan refleksi masing-masing. Kalau kita bisa kompak, [segala] apa yang mau kita kerjakan, akan bias [terlaksana].

Jadi saya dorong Amang Ephorus tadi parsaribuan-nya itu...Saya telepon beliau: “Amang kalau mencari duit 54 miliar, gampang lah itu saya bisa cari-cari. Tapi membuat kompak ini, dengan parsaribuan itu. Itu luar biasa.

Jadi menurut saya, ide Amang Ephorus itu adalah ide yang brilliant: untuk menyatukan kita, [jangan] kesombongan.

Wah saribu rupiah do, 30 ribuan itu...Bukan itu. Mungkin buat anda itu nothing, tapi buat parrengge-rengge, itu something. Jadi gereja ini dibentuk dari, yaaa.. paribuan, parpuluhan dari orang yang paling kecil. Jadi kita jangan bergaul hanya kepada orang-orang yang atas.

Bapak Ibu sekalian, ya saya beri contoh saya dulu: Orang yang kenal saya, dari zaman dulu, tidak akan pernah mereka melihat perubahan saya bergaul. Apapun jabatan saya hari ini, apapun kekuasaan saya hari ini, enggak akan [berubah]. Saya biasa aja. Siapa aja yang mau ketemu saya, siapa yang mau telepon, siapapun yang mau...pasti saya respons.

Kenapa? Karena itulah hidup. Kita ini harus berbuah, bukan hanya lip service, tapi executed dalam langkah kamu sehari-hari...sekecil apapun yang anda buat.

Saya selama sekarang ini, jadi sering ke Batak sana, ke Toba. Saya merasakan itu yang kurang.

Karena kita orang Batak itu, selalu merasa dia yang paling hebat. Yes, Anda hebat kok.

Anda lihat SMA Unggul Del itu, [nilai] matematika terbaik se-Indonesia itu ada di sana loh. Itu hasil UMPT kemarin. Kenapa bisa? Kita dorong dengan hati. Dorong supaya...Karena dasarnya orang Batak itu hebat-hebat, hanya semua maunya jadi striker. Itu aja.

Jadi, gak ada yang mau jadi pengumpan...ah au lebih jago...Itu kita kurangi lah. Striker itu penting, very important, tapi kalau striker gak ada yang mengumpan, apa yang mau ditendang.

Kantor pusat HKBP Pearaja, Tarutung (foto: Siseana)

Jadi kita pun di antara orang Batak, saya titip sekali.

Cobalah [lihat] lawyer-lawyer terbaik kita. Mana ada lawan lawyer orang Batak. Pokoknya yang lurus aja bisa dibengkokin, yang bengkok bisa dilurusin. Ya [karena] dia hapal mengenai...Saya bicara [tentang] Pak Lambock (Lambock V Nahattands, ahli hukum. Red) ini. Loophole-nya itu dia tahu, kan ndak mungkin sempurna.

Jadi sekali lagi saya titip [kepada] bapak ibu sekalian, gereja kita sekarang ini sedang seperti ini, saya titip: Ayo kita kompak! Saya titip betul itu.

Saya masih berdinas di sini, kan tinggal 3,5 tahun. Saya gak mau lagi. Setelah 3,5 tahun saya bilang: udahlah, cukup.  Istri saya terutama. “hei – hei jangan lagi,” katanya.  Boru raja itu kan kalau dia udah bilang itu, ya udah lah.

Jadi yang ingin saya sampaikan ke Bapak Ibu sekalian, semua itu yang ada di [bawah] langit ada waktunya, saya ulangi: semua yang ada di bawah langit ini, ada waktunya. Ada waktu lahir, ada waktu ini, ada waktu...ya ada waktu check out.

Jadi kita pun ndak perlu menyombongkan diri, karena semua sementara.

Jangan hanya lip service. Kita harus meyakini bahwa Tuhan telah memberikan semua waktunya. Sekarang waktu kita bantu gereja, kita bantu dengan hati. Gak usah beritahu beritahu lah.

Tadi kan sudah dibilang Pak Laoly (Yasonna Hamonangan Laoly, Menteri Hukum dan HAM. Red), ndak usah beritahu [siapa-siapa]. Jadi, kalo Bapak yang sudah nyumbang sekarang Rp. 100 juta, ya minggu depan 100 juta lagi, diam-diam kirimin aja lah ndak papa [sambil tersenyum.Red]...Yang sekarang cuma 1 juta, minggu depan 1 juta lagi, gak papa sejuta.

Atau yang kasih sekarang  cuma 500 ribu, ya nanti minggu depan 500 ribu lagi ndak papa. Jadi bukan jumlahnya, tapi hati yang ada disini [menunjuk pada dada. Red]. Itu yang perlu diingat.

Jadi Amang Inang semua yang ada di zoom call dimana pun Anda berada, saya titip dari sini:

Jangan lihat: wah ada yang kasih 1 miliar nih, ada yang 10 miliar mungkin, 15 miliar mungkin, Anda kasih 100 ribu pun, kasih 10 ribu pun dengan hatimu, itu adalah satu pemberian yang sangat …. (gak terdengar karena tepuk tangan. Red)

Sekali lagi dari saya, mari kita kerjasaama, sebagai Batak mari kita kompak, jangan parsitiuran, partumbukan...

Saya lihat kadang-kadang, ya tapi mungkin ini dalam rangka popularitas juga ya...Jadi ada kadang-kadang main boxing, [sambil tersenyum. Red] tapi jangan dikembangkan terus lah, saya titip orang batak itu main boxing nya jangan kelamaan [senyum.Red], udah [setelah itu] tarombo lagi lah.

Inilah Amang Ephorus, jadi Amang gak usah khawatir, kita akan back-up Amang, Inang Ephorus juga, HKBP.

Kita semua akan mendukung. Saya kira kita committed, jangan sampai gagal ke OJK.

OJK itu kita harus selesaikan tahun ini. Jadi saya minta semua teman-teman, Amang Inang semua yang zoom call, kita punya target 54 miliar. Saya lihat Amang Ephorus sudah punya hampir sampai 9 miliar ya..[dari hasil] yang di parmingguan, peribuan.

Permingguannya sudah bisa 9 miliar. Artinya, kalau sekarang kita main terus seperti ini [ acara fund raising. Red], saya kira 54 miliar itu akan bisa kita capai sampai akhir tahun.

Kalo teman-teman kita marga Sinaga saya kira akan melanjut juga, tapi jangan kira rely on temen-temen kita marga Sinaga, kita rely on kita punya kemampuan sendiri lah. Di situlah kebesaran Batak itu. Horas ma hita sude.