Menelisik Pustaha Laklak, Naskah Kuno Suku Batak

Pustaha Laklak, warisan nenek moyang suku Batak (foto:budaya indonesia)
Pustaha Laklak, warisan nenek moyang suku Batak (foto:budaya indonesia)

JAKARTA, Kalderakita.com: Tradisi tulis menulis di kalangan suku Batak telah lama ada. Ini terbukti dengan adanya warisan nenek moyang bernama Pustaha Laklak.

Apa itu Pustaha Laklak? Ia adalah kitab kuno Batak bertuliskan Aksara Toba yang ditulis di atas kulit kayu, kemudian dilipat menggunakan mode concertina (semacam akordion).Terkadang ia juga dilengkapi dengan papan.

Keberadaan aksara Batak yang mewujud dalam Pustaha Laklak ini sekaligus membuktikan bahwa suku Batak tidaklah seterbelakang sebagaimana dahulu dibayangkan orang.

Menarik juga untuk menelaah penggunaan kata Pustaha.

Sejumlah penelitian menunjukkan pustaha merupakan adaptasi dari kata pustaka yang berasal dari bahasa Sansakerta. Kesamaan ini memunculkan teori bahwa aksara Batak berasal dari aksara Kawi. Namun ada juga yang berpendapat bahwa aksara Batak yang ada dalam manuskrip Pustaha Laklak ada hubungannya dengan aksara Phoenesia (coeniform).

Isi Pustaha Laklak

Pustaha Laklak yang ada di Sumatra Utara berisi tradisi Batak masa lalu dan sastra klasik.

Umumnya, ia mengandung teks yang sifatnya rahasia. Bisa berisi ilmu-ilmu hitam seperti pangulubalang, tunggal panaluan, pamunu tanduk, gadam, dan lain sebagainya.

Ada juga ilmu putih, yakni penolak balak dan pagar. Selain itu, ia juga berisi ilmu nujum atau ramalan yang menggunakan tanda-tanda binatang, dan masih banyak ilmu lainnya.

Ritual klasik suku Batak juga termaktub dalam Pustaha Laklak. Ajaran mitos, pengobatan, hingga hitung-hitungan pertanggalan hari baik dan hari tidak baik (parhalaan) ada di dalamnya.

Yang tak kalah pentingnya adalah rahasia pengobatan tradisional dengan menggunakan ramuan tanaman rempah-rempah.

Simbol kemaritiman ada di dalam Pustaha Laklak (foto: Kemendibud)

”Saat ini di Eropa, di belahan dunia sebelah sana, para ilmuwannya sedang melakukan penelitian ilmiah tentang khasiat rempah dan teknik pengobatan ini,” kata Rusmin Tumanggor, antropolog Universitas Indonesia, di acara Jalur Rempah, yang diselenggarakan di Museum Nasional, Jakarta, beberapa waktu yang lalu, seperti dilansir indonesia.go.id.

Prosess Pembuatan Pustaha Laklak

Churmatin Nasoichan dalam bukunya Media Penulisan Pustaha Laklak, mengungkapkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan menulis manuskrip Pustaha Laklak. Sebelum menuliskannya, seseorang harus menjalani sejumlah ritual yang dipimpin seorang datu. Itupun tidak dapat dilakukan setiap saat. Ada hari-hari tertentu yang baik untuk mengerjakannya.

Oleh sebab itu, Pustaha Laklak dianggap sebagai kitab sakral yang pengerjaannya melewati serangkaian ritual. Sama halnya dengan membuat objek-objek sakral lainnya semisal patung pangulubalang dan tongkat tunggal panaluan.

Pustaha Laklak terbuat dari kertas yang berasal dari sebuah pohon bernama kayu alim. Kayu ini merupakan salah satu spesies dalam genus Aquilaria yang banyak tumbuh di hutan-hutan tropis Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, Malaysia, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, dan India Utara.

Di Sumatra Utara, pohon kayu alim dapat dijumpai di daerah Barus Hulu, di kitaran Pardomuan, Kabupaten Dairi, dan juga daerah Pulau Raja, Kecamatan Bandar Pulau, serta Kabupaten Asahan.

Kulit kayu tersebut dikupas dari pokoknya yang panjangnya bisa mencapai 7 meter dan lebarnya hingga 60 cm; tergantung pada besarnya pohon.

Kulit kayu alim ini diolah menjadi buku yang disebut pustaha yang bentuk dan ukurannya berbeda-beda, dan tidak memiliki sampul kayu untuk menjilidnya.

Pustaha Laklak (foto: kate id)

Pustaha yang mewah, pada umumnya menggunakan sampul (lampak) yang memiliki ukiran indah.

Pustaha laklak ini dituliskan berlembar-lembar dengan menggunakan tinta hitam. Penulisan yang dibuat berlipat-lipat dan bolak-balik memiliki tujuan untuk memudahkan pembacaannya.

Sebuah pustaha atau buku terdiri dari laklak dan lampak. Laklak adalah kertasnya, yaitu lembaran-lembaran sebagai media penulisan, sedangkan lampak adalah sampul bukunya.

Lembaran-lembaran pustaha tersebut berwarna cokelat muda kejinggaan dan terdapat serat-serat halus yang memang menunjukkan bahannya dari kulit kayu. Umumnya kertas-kertas tersebut lebih tebal dibanding dengan kertas-kertas produksi sekarang.

Pustaha laklak ini dapat dijumpai di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. Ada lebih dari 200 pustaha laklak yang disimpan, baik di ruang tata pamer maupun di ruang koleksi.

Selain itu, pustaha laklak juga disimpan di Museum Nasional Jakarta. Ratusan pustaha laklak juga disimpan di museum-museum luar negeri seperti di Belanda dan Jerman.