HKBP Desak Semua Pihak Ambil Langkah Konkret Selamatkan Lingkungan Danau Toba

Ephorus HKBP Robinson Butarbutar (foto: P Hasudungan Sirait)
Ephorus HKBP Robinson Butarbutar (foto: P Hasudungan Sirait)

JAKARTA, Kalderakita.com: Gereja Huria Kristen Batak Protestan, (HKBP), mendesak semua pihak untuk sesegera mungkin mengambil langkah konkret menyelamatkan lingkungan hidup dan hutan di sektiar Danau Toba.

Seruan tertulis yang ditandatangani langsung Ephorus HKBP Pdt. Dr. Robinson Butar-butar ini merupakan respons atas peristiwa banjir bandang yang menghantam kota turis Parapat dan longsor di desa Sualan Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada Rabu (13/5).

Dalam Surat HKBP bertajuk “PENYELAMATAN HUTAN DAN LINGKUNGAN DI SEKITAR DANAU TOBA,” yang diterima Kalderakita.com, Senin (17/5), di Jakarta, dijelaskan banjir bandang yang terjadi di Parapat merupakan dampak dari penurunan kualitas lingkungan hidup dan hutan di sekitar Danau Toba.

Banjir bandang serupa sudah terjadi beberapa kali, seperti pada Desember 2018, Februari 2019, Juli 2020, yang mengakibatkan kerugian material di pihak masyarakat, tennasuk terganggunya arus lalu lintas di daerah tersebut.

Berdasarkan investigasi Komite Gereja dan Masyarakat (KGM) HKBP dengan mitranya atas rentetan peristiwa tersebut, pihak gereja memahami bahwa banjir-banjir bandang ini memiliki kaitan yang erat dengan aktivitas penebangan hutan di Sitahoan dan kawasan hutan Sibatuloting.

Aktivitas ini dilakukan baik untuk kepentingan hutan tanaman industri (penanaman eukaliptus), pemanfaatan kayu dan hasil hutan oleh para pengusaha lokal plus aktivitas pertanian masyarakat dalam skala yang jauh lebih kecil, papar Ephorus HKBP Pdt.Dr. Robinson Butar-butar.

Lebih rinci diuraikan dalam surat itu, di Sualan sampai Tanjung Dolok, Parapat terdapat sejumlah aliran sungai yang sumber airnya berasal dari Sitahoan dan Kawasan Hutan Sibatuloting.

Kini, bila hujan deras terjadi, sungai-sungai kecil ini akan meluap dan membawa material lumpur dan bebatuan yang sangat mengancam, seperti yang sudah terjadi berulang kali, sebagaimana disebutkan di atas.

Jika degradasi hutan terus berlangsung, banjir bandang di kawasan ini akan semakin sering terjadi, tukasnya.

Banjir Bandang landa kota wisata Parapat (foto: jpnn)

Topografi dari Danau Toba yang merupakan danau vulkanik adalah tanah berpasir dan bebatuan dan berbukit-bukit. Fakta tersebut mengingatkan semua pihak akan besarya potensi bencana, serta terpanggil untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan hutan. Menjaga kelestarian lingkungan hidup dan hutan yang berkesinambungan adalah panggilan kita sebagai warga gereja, tegas Ephorus HKBP Pdt.Dr. Robinson Butar-butar.

HKBP berpandangan, pemeliharaan lingkungan hidup dan hutan adalah faktor penting akan keberhasilan dan keberlanjutan pembangunan infrastruktur dan aneka fasilitas umum yang dibangun Pemerintah Pusat akhir-akhir ini di sekitar Danau Toba, sebagai kawasan strategis pariwisata nasional, yang diharapkan membawa perbaikan kesejahteraan bagi rakyat.

Karena itu, pemerintah pusat dan daerah perlu mengkaji kebijakan yang lebih spesifik untuk menghentikan laju deforestasi, memberi sanksi tegas sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada setiap pihak yang merusak alam, serta mengembalikan fungsi hutan di sekitar Danau Toba sebagai hutan alam untuk menyangga kelestarian dan keindahan Danau Toba, flora dan fauna, serta kesejahteraan masyarakat.

HKBP berkomitmen untuk menolong korban bencana alam dan juga siap bekerjasama dengan pemerintah pusat dan daerah untuk menjadi mitra menjaga lingkungan hidup dan hutan, sekaligus mendorong dan mengapresiasi program reboisasi yang ramah lingkungan, terencana, dan konsisten.