Inggu, Tanaman di Pulau Samosir Ini Diyakini Dapat Halau Corona

Daun Inggu dipercaya dapat halau corona (foto: one line review)
Daun Inggu dipercaya dapat halau corona (foto: one line review)

JAKARTA, Kalderakita.com: Berbincang dengan Ratnauli Gultom, pengelola Ecovillage Silimalombu di Kabupaten Samosir selalu mengasyikkan. Pengetahuannya yang luas tentang sejumlah tanaman endemik di Pulau Samosir selalu mencerahkan.

Di era pandemi COVID-19 ini, dirinya mengaku aman-aman saja menjalani hidup normal tanpa khawatir kena virus yang penularannya bergerak secara eksponensial.

“Meski pandemi saya tetap beraktivitas normal. Saya sebagai nelayan masih pergi untuk ambil ikan. Saya masih beraktivitas sebagai petani. Jadi, nyaman-nyaman saja untuk pergi ke ladang. [Seperti] tidak ada Corono,” katanya saat berbincang dengan awak Kalderakita.com via zoom, Selasa (26/5). 

Apalagi menurut Ratnauli yang bersuamikan Thomas Heinie, seorang warga negara Jerman, ada banyak tanaman yang tumbuh di Pulau Samosir berpotensi untuk dijadikan obat penghalau virus corona.

“Di sini ada daun yang kita sebut Inggu yang bisa menghalau Corona,” ujarnya.

Dulu kata Ratnauli orang-orang tua kerap menggunakannya sebagai obat untuk ayam-ayam yang sakit.

“Tanaman ini bisa dimakan begitu saja alias dijadikan lalap. Itu bagus untuk menjaga tubuh agar tetap kuat,” katanya.

Inggu yang dalam bahasa latin disebut ruta angustifolia bukanlah tanaman asli Pulau Samosir. Ia berasal dari Eropa Selatan dan Afrika Utara, dan hanya tumbuh baik pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Entah bagaimana tanaman ini dapat sampai di Pulau Samosir;  belum ada penelitian tentang itu.

Hasil kajian mahasiswa USU Agus Triono Naibaho dalam skripsinya (2018) menunjukkan Inggu dan Sarindan merupakan jenis tumbuhan obat paling sedikit yang ditemukan di Hutan Lindung Samosir.

Meski demikian Ratna mengaku tak kesulitan mendapatkan tanaman ini di kitaran Desa Silimalombu, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir, dimana ia dan suaminya tinggal.

Pasangan ini mengelola homestay dan restoran berkonsep ‘botanical garden.’  Pelancong yang menginap di sana bukan hanya disuguhi suasana desa yang asri dan bersih, mereka juga boleh ikut mengolah hasil alam seperti mangga, cokelat, kelor, kemiri, dan sorghum.

Eco village Silimalombu menyediakan homestay berkapasitas 9 kamar. Wisatawan dapat mengaksesnya via aplikasi airbnb. Pada 2019, Eco Village Silimalombu mendapatkan nominasi Ekowisata di ajang Anugerah Pesona Indonesia.