Asal Mula Dinasti Si Singamangaraja, Menurut Kepercayaan Lama Orang Batak

Simbol Sisingamangaraja (foto: P Hasudungan Sirait)
Simbol Sisingamangaraja (foto: P Hasudungan Sirait)

Tulisan-1

JAKARTA, Kalderakita.com: Tanah seketika kerontang. Angin kencang menerpa. Yang lebih luar biasa lagi, tanaman padi di sawah menjadi sungsang: biurna tu toru,  uratna tu ginjang [bijinya ke bawah, akarnya ke atas]. Tentu saja warga Bakara [baca: Bakkara], negeri yang tak seberapa jauh dari bibir Danau Toba,  terperanjat, takut, dan tak habis pikir.

Otoritas setempat, para raja  si onom ompu [6 kakek]—Bakara, Sihite, Simanullang, Sinambela, Marbun, dan Simamora—pun mendatangi Raja Bona Ni Onan. Di halaman,  mereka bermuka-muka. 

Tuan rumah menanyakan maksud kedatangan para tetamu.

Perangai alam yang sangat ganjil dan belum pernah demikian sebelumnya itu mereka gambarkan.

“Saya juga tak tahu apa sebabnya,” Raja Bona Ni Onan menimpali. Dia adalah anak ke-3 Sinambela (leluhur segenap marga Sinambela sekarang). “Lantas, apa yang bisa saya lakukan?”

Tetamu itu meminta agar dia bersedia menjadi tuan rumah. Mereka akan meminta datu menyelenggarakan acara marmanuk [penerawangan dengan menggunakan manuk (ayam) sebagai medium]. Tujuannya untuk mengetahui apa sebaiknya yang harus dipersembahkan kepada Debata Mulajadi Nabolon [Sang Maha Pencipta] agar alam kembali seperti sedia kala: padi tumbuh normal lagi serta tanaman dan hewan peliharaan sehat-bernas.

“Kami mendengar kabar bahwa putra boru Pasaribu (istri Raja Bona Ni Onan) telah bergelantungan di Tombak Sulu-sulu dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas.  Besoknya padi menjadi tumbuh terbalik,” seorang dari tamu itu menambahkan.

Raja Bona Ni Onan bersedia menjadi tuan rumah. Acara marmanuk berlangsung. Lewat petunjuk ayam yang ditaruh di bawah keranjang bermodel tudung saji, Datu kemudian menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Mulajadi Nabolon, menurut dia,  telah melimpahkan kuasa kerajaan ke tangan putra boru Pasaribu. Itu terjadi setelah  sekian lama perempuan tersebut selalu berurai airmata akibat gunjingan, cercaan, umpatan, atau pelaknatan.

Ba nungnga dilehon Debata [tu] tubu ni inanta i: singa ni uhum, singa ni harajaon, singa ni hata. Nungga i sitiop batuan, sitiop singa, singa ni harajaon, sitiop batuan sisada ihot, ninggala sibola tali, sitiop gantang harajuan, hatian pamonoran, sihorus na gurgur, sitambai na longa di hita Batak on,” lanjut sang datu (Arsenius Loembantobing dalam disertasi Philip O. Tobing yang menjadi kitab The Structure of The Toba-Batak Belief ini The High God, edisi tahun 1994). Intinya, putra boru Pasaribu bakal menjadi singa di bidang hukum, kekuasaan, dan wacana. Seorang yang maha adil-bijaksana-berwibawa  sehingga tak perlu menggunakan pendekatan kekerasan kapan pun. 

PARJALANG

Raja Bona Ni Onan seorang parjalang [gemar berkelana menjelajah negeri orang]. Terkadang sampai bertahun-tahun baru ia pulang ke Bakara. Suatu waktu ia terkejut sekembali dari kembara. Bagaimana tidak? Sang istri, boru Pasaribu,  yang ditinggalkannya beberapa tahunsedang berbadan dua. Bagaimana bisa demikian? Jelas,  itu bukan benih dia sebab jarak yang memperantarai tak memungkinkan dirinya mencumbui-membuahi pasangan.

Patung Si Singamangaraja XII (foto: P Hasudungan Sirait)

Wajar kalau dia kemudian meradang dan berang. Boru Pasaribu, ia interogasi.  Pun, putri semata  wayang mereka. Bocah itu merupakan pendamping setia yang selalu diajak boru Pasaribu termasuk ke tempat tetirah favoritnya: hutan keramat bernama Tombak Sulusulu. 

Seperti kepada kenalan-kerabat yang makin bersemangat mempergunjingkan dirinya akibat kehamilan itu, kepada sang suami pun boru Pasaribu menyatakan dirinya tak pernah berselingkuh. Yang terjadi,  menurut, dia adalah sebuah peristiwa ganjil.

Saat maranggir [mandi dengan menjadikan jeruk purut sebagai pembersih rambut dan badan] di mata air Tombak Sulusulu, sontak ia melihat sebuah jambu barus jatuh dari langit yang bercahaya dan bergemuruh. Buah itu ia makan. Ternyata dirinya kemudian  hamil (Sitor Situmorang, Toba Na Sae, 2004).

Si perempuan kecil mengamini kisah ibunya karena ia juga penyaksi kejadian.

Raja Bona ni Onan tidak bisa menerima penjelasan itu. Kemurkaannya berlanjut.

Sangat tersudut, boru Pasaribu pun menangis dan menangis saban hari. Kemasygulannya baru berkurang setelah seorang si baso (perempuan berkemampuan spritual tinggi) mengungkapkan buah penerawangannya.

Yang dikandung boru Pasaribu, ucap si baso,  adalah benih Batara Guru (bersama Soripada dan Mangala Bulan dia merupakan Dewata Trimurti yang diciptakan langsung oleh Mulajadi Nabolon. Batara Guru memiliki kuasa mencipta, Soripada menyelenggara, dan Mangala Bulan menetapkan). Anak yang lahir nanti, lanjut dia, bakal menjadi raja yang luar biasa sebab merupakan inkarnasi dari Batara Guru. Nama untuk dia adalah Singa Mangaraja.

Setelah 36 bulan mengandung (ada yang bilang 20 bulan), boru Pasaribu akhirnya melahirkan seorang anak lelaki. Gempa bumi, badai, dan petir meraja di saat persalinan. Tanda-tanda alam yang luar biasa!

Ganjil, penampakan orok itu. Giginya sudah lengkap. Lidahnya berbulu pula. Kelak, bulu di badannya tumbuh dengan arah yang sebaliknya (Ompu ni Marhulalan [TM Sihombing], Dongan tu Ulaon Adat]).

Bumi yang gunjang-ganjing [humuntal] menjadi dasar saat pemberian nama. ‘Manghuntal’ nama yang dipilih. 

Saat masih berumur sekitar 5 tahun (ada yangmengatakan 7 tahun) Manghuntal dibawa ibunya ke Tombak Sulu-sulu. Di sana ia memanjati pohon. Di sebuah  cabang ia bergelantungan dengan posisi kepala ke bawah. Ajaib! Itu tadi: semua tanaman padi di kitaran Bakara menjadi sungsang. Bukan hanya itu. Tanah juga serba retak-kerontang.

PEMULA DINASTI

Sesuai petunjuk datu, Manghuntal kemudian dipatortorhon—prosesi dimana ia diminta memperagakan di depan orang banyak kepiawaiannya menari ditingkahi bunyi gondang sabangunan [seperangkat lengkap alat musik tradisi]. Ternyata ia mampu membius segenap hadirin. Tak ada yang mampu mengimbangi gaya menarinya. Saking tersihirnya, bahkan panggorsi [pemusik] pun sampai lupa menjalankan tugasnya.

Pintu Masuk Kompleks Bakara (foto: P Hasudungan Sirait)

Di puncak acara tersebut, Manghuntal pun ditabalkan menjadi Singa Mangaraja (makna harfiahnya, singa yang merajai).Kejadian ini diperkirakan para penulis berlangsung di pertengahan abad ke-16. Alam kembali normal seusai penabalan.

Singa Mangaraja pertama pembelajar yang bersemangat. Saat masih remaja pun ia kerap menghilang sekian lama dari Bakara. Terkadang ke Tombak Sulusulu ia pergi berguru.

Seiring perjalanan waktu kemampuan supranaturalnya terus meninggi. Ia akan bernubuat, umpamanya,  kalau penyakit menular akan mendera (epidemi). Beguantuk (kolera),ngenge nabirong(cacar hitam),  begu rojan (typus-disentri), sampar, di antaranya. Penawarnya tentu saja ia beritahu. Sebagai ucapan terimakasih, tetamu biasanya akan membawa silua (buah tangan). Botabota [biji padi yang tak pecah saat ditumbuk], boni [benih],  dan tuak na tonggi [tuak manis], misalnya (Raja Patik Tampubolon, Pustaha Tumbaga Holing, edisi ke-2, tahun 2002). 

Orang dari desa naula (8 penjuru mata angin)  mendatangi dia untuk pelbagai keperluan. Berobat, meminta agar hujan turun, mendoakan agar tanaman  dan peliharaan serba sehat-bernas, menanyakan berita, dan menafsirkan mimpi, di antaranya.

Kendati memiliki kemampuan istimewa di segala bidang sehingga selalu didatangi orang dari pelbagai penjuru, kedigdayaannya lelaki dari Bakara ini belum akan paripurna (lengkap) sebelum ia berhasil mendapatkan sejumlah senjata sakti mandraguna dari Si Raja Uti, penguasa yang bermukim di Barus. Begitu kepercayaan orang Batak di zaman dulu. Akan mampukah dia?  (Bersambung)