Bakara, Basis Dinasti Si Singamangaraja yang 3 Kali Dibumihanguskan Penjajah

Bakara, basis dinasti Si Singamangaraja (foto sembilan: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)
Bakara, basis dinasti Si Singamangaraja (foto sembilan: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

BAKARA, Kalderakita.com: Bakara [baca: Bakkara] sebuah tempat yang sangat bermakna istimewa bagi orang Batak, terutama angkatan lama. Sebab di sanalah berdiam dinasti Si Singamangaraja yang merupakan maharaja Batak. Pemulanya adalah Raja Manghuntal Sinambela yang berkuasa sejak pertengahan abad ke-16. Oleh orang Batak zaman ‘baheula’ ia dipercaya sebagai titisan Batara Guru.

Bersama Soripada dan Mangala Bulan, Batara Guru merupakan Dewata Trimurti yang diciptakan langsung oleh Mulajadi Nabolon (Sang Khalik).Batara Guru memiliki kuasa mencipta, Soripada menyelenggara, dan Mangala Bulan menetapkan.

Si Singamangaraja silih berganti hingga yang ke-12 (Ompu Pulo Batu). Segenap mereka keturunan dari Raja Manghuntal Sinambela. Syahdan, sebagaimana sang pionir, semua memiliki tanda lahir yang unik (antara lain lidahnya berbulu  serta memiliki kemampuan supranatural yang maha tinggi).  Wajar saja kalau mereka dianggap sebagai raja-imam [king-priest].

Raja Manghuntal membangun keraton dan biaranya di Lumban Pande, Bakara, yang dekat dari pantai. Hingga Si Singamangaraja X (Ompu Tuan Nabolon) tempat ini berkedudukan sentral (Sitor Situmorang, Toba Na Sae, 2004).

Bakara, basis dinasti Si Singamangaraja (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Semua berubah setelah pasukan Padri-Bonjol yang dipimpin Tuanku Rao berekspansi ke Tano Batak. Tuanku Rao memperdaya dan memenggal kepala Ompu Tuan Nabolon. Pasukannya lantas membakar habis Lumban Pande. Kejadian ini  tahun 1824.

Menurut orang Batak lama, Tuanku Rao tiada lain dari keponakan Ompu Tuan Nabolon sendiri. Nama sesungguhnya Sipongki Nangolngolan, dia buah incest sepupu sang penguasa tersebut.  Sipongki mendendam. Sebab?  Saking nakalnya, saat masih bocah ia telah dilarung (dimasukkan ke sebongkah kayu yang dalamnya dikorek dan dilajukan di permukaan sungai) atas perintah Ompu Tuan Nabolon (Raja Patik Tampubolon, Pustaha Tumbaga Holing, edisi ke-2, tahun 2002). 

Seorang putra Ompu Tuan Nabolon yang masih kecil  luput dari maut yang ditebarkan Pidori [Padri] itu. Ia diselamatkan penjaganya dengan menyembunyikannya di hutan. Dialah yang kelak menjadi Si Singamangaraja XI.  Ompu Sohahuaon, begitu sebutan dirinya kemudian, berkuasa sedari muda hingga sepuh. Ia berwibawa besar dan berjejaring luas. Dengan penginjil yang kemudian dikenal sebagai ‘rasul orang Batak’, Ingwer Ludwig Nommensen, misalnya, ia berhubungan baik. 

Dialah yang memindahkan keraton-biara dari  Lumban Pande ke Lumban Raja. Lokasi  yang kita kenal sekarang sebagai kompleks istana Si Singamangaraja, Bakara, sekarang  (lihat foto) berada di kaki tebing curam, bukan di bibir pantai.

Setelah Ompu Tuan Nabolon turun tahta (tandanya adalah ia menghilang untuk selamanya; para pendahulunya juga  demikian) putranya yang masih belia yang menjadi penggantinya. Ompu Pulo Batu sebutannya kelak, ia pejuang yang luar biasa. Tak kurang dari 30 tahun ia memerangi Belanda dengan cara bergerilya.

Setelah perang yang dahsyat di Bahal Batu dan beberapa tempat lain, pada 30 April 1878 kolone pasukan Belanda mengejar Ompu Pulo Batu (Patuan Bosar) hingga ke Bakara. Keraton-biara dinasti Singa Mangaraja hangus lagi untuk kali ke-2. Seperti di tinggi ni Pidori [di masa Padri],  penjarahan juga terjadi.

Ompu Pulo Batu bersama ibunya (boru Situmorang)  dan saudara-saudaranya berhasil menyelamatkan diri. Mereka mengungsi ke Lintong (kawasan tinggi di Dairi yang berada di atas Harianboho).  Tepatnya ke kediaman keluarga Ompu Babiat Situmorang—ayah penyair kenamaan Indonesia, Sitor Situmorang—saudara laki-laki boru Situmorang. Setelah setahun di sana barulah mereka kembali ke Bakara.

Patung Si Singamangaraja XII (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Di Bakara Si Singa Mangaraja XII berumah tangga untuk kali pertama. Tapi, kemudian  ia menikah sampai beberapa kali di sana. Di masa inilah dia mengkonsolidasikan kekuatan dengan menjalin jejaring dengan para raja huta dan penguasa Aceh. 

Pada 12 Agustus 1883 Bakara kembali menjadi sasaran bumi hangus. Pelakunya adalah pasukan yang dipimpin Kapten Haver Droeze. Sebelum aksi itu berlangsung Si Singamangaraja XI bersama keluarga dan pengikutnya telah menyingkir ke Lintong.

Untuk seterusnya ia tak pernah lagi menjejakkan kaki lagi di Tano Bakara. Di hutan raya yang membentang di wilayah Dairi-Aceh ia menetap atau berpindah-pindah. Kisah kembaranya yang luar biasa baru berakhir setelah dirinya disergap pasukan yang dipimpin Kapten Christoffel di kawasan Alahan, pedalaman Dairi, pada 17 Juni 1907. Ia tewas  hari itu juga bersama tiga anaknya (Patuan Nagari, Patuan Anggi, Lopian)  serta sejumlah pendukung setianya.

Dikebumikan di Tangsi, Tarutung, jenazah Si Singamangaraja XII, Partuan Nagari, dan Patuan Anggi  kelak, pada 14 Juni 1953, dipindahkan ke Soposurung,  Balige. Jadi, bukan ke negeri asal mereka, Bakara.