Pakar Reaktor Nuklir 18 Negara Hadiri Konferensi Internasional Yogyakarta

Wacana pembangunan PLTN suda ada sejak 60an (foto: Liputan6)
Wacana pembangunan PLTN suda ada sejak 60an (foto: Liputan6)

YOGYAKARTA, Kalderakita.com: Pakar reaktor nuklir dari 18 negara mengikuti Konferensi Internasional bertajuk High Temperature Reactor Technology 2021 yang dipusatkan di Yogyakarta secara virtual, 2-5 Juni 2021.

Dalam konferensi yang dihelat Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan International Atomic Energy Agency (IAEA) itu membahas berbagai isu terkini perkembangan teknologi nuklir berbagai belahan dunia melalui 83 makalah yang dipresentasikan.

"Kemajuan teknologi reaktor nuklir saat ini menjadi salah satu opsi menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus mengatasi kebutuhan energi, tentu saja dengan mengoptimalkan aspek keamanan dan keselamatannya," kata Ketua Konferensi Djarot Sulistio Wisnubroto, Sabtu, 5 Juni 2021.

Dari 83 judul penelitian, yang 26 di antaranya berasal dari Indonesia itu, beragam topik diangkat, seperti Program Riset Nasional dan Industri; Aplikasi Industri dan Pasarnya; Bahan Bakar dan Limbah; Material, Komponen dan Manufaktur; Analisis Fisika Reaktor; Coding dan Analisis Komputer; Pengembangan, Desain dan Keteknikan; serta Keselamatan dan Perizinan.

Salah satu isu menarik yang dibahas terkait reaktor nuklir dengan pendingin gas yang kini masuk generasi keempat. Nuklir sendiri kini masih menjadi isu hangat di Indonesia karena banyak pihak khawatir dengan sisi keamanannya. Namun para peneliti juga melihat, sumber energi ini berpotensi menjadi salah satu sumber yang teraman karena memiliki dampak emisi karbon paling rendah.

Djarot yang juga peneliti senior BATAN – Pusat Teknologi Limbah Radioaktif mengungkap di Indonesia pihaknya terus melakukan sosialisasi terkait nuklir secara terbuka dan juga mengkaji pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

PLTN Muria (foto: Okezone)

"Para peneliti kini terus berupaya memastikan keamanan nuklir serta mengupayakan berbagai prosedur perijinan di Indonesia," kata dia. Menurutnya, sosialisasi nuklir dengan jujur dan terbuka penting agar masyarakat memahami secara menyeluruh.

Ia mencontohkan, pada 2011 silam ada bencana tragedi bocornya reaktor nuklir di Fukushima, Jepang, akibat gempa. Namun setelah ditelusuri itu merupakan generator generasi kedua dengan pendingin air.

"Itu jadi pelajaran penting juga untuk kita bahwa membangun reaktor harus juga memastikan aman dari tsunami dan gempa," katanya.

Di Indonesia, BATAN sudah melakukan studi lokasi di tiga wilayah, yakni Jepara Muria, Bangka dan Kalimantan Barat untuk kemungkinan pembangunan PLTN itu.

Tiga wilayah yang sudah diteliti itu sejauh ini dianggap memenuhi kriteria dari segi keamanan bentang alam, baik dari kemungkinan gempa maupun tsunami.

“Misalnya di Jepara-Muria jadi pertimbangan karena suplai listrik tertinggi di Pulau Jawa, jadi dibutuhkan adanya reaktor, begitu juga di Bangka yang sebenarnya sudah meminta sejak tahun 1990-an karena kebutuhan listrik," kata dia.

Peneliti Senior BATAN - Pusat Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir Geni Rina Sunaryo mengatakan kapasitas sumber daya manusia di Indonesia sebenarnya juga sudah siap mengampu teknologi nuklir.

Terkait isu keamanan, ia mengatakan reaktor yang rencananya akan dibangun memiliki kapasitas kecil mulai 10 Megawatt dan akan berangsur naik hingga 50 Megawatt.

“Generasi keempat dengan pendingin gas yang dikaji saat ini sudah sangat aman dibandingkan dengan generasi dua seperti di Fukushima maupun generasi ketiga. Namun memang keputusan ada di tangan pemerintah pusat," katanya.

Melalui konferensi ini para pakar dan ilmuwan lintas negara saling berinteraksi dan berbagi pengetahuan dalam mengembangkan teknologi reaktor. Sekaligus memecahkan tantangan yang dihadapi.

Konferensi juga menghadirkan para pembicara kunci yang berasal dari high-level sektor nuklir dan akademisi, yaitu Anhar Riza Antariksawan (Kepala BATAN), Jazi Eko Istiyanto (Kepala BAPETEN), Panut Mulyono (Rektor UGM), dan M. Hadid Subki (Badan Tenaga Atom Internasional).

Konferensi Internasional High Temperature Reactor Technology merupakan satu-satunya pertemuan internasional yang berfokus pada teknologi reaktor nuklir temperatur tinggi berpendingin gas, yaitu reaktor dengan generasi yang lebih maju. Pertemuan dwi tahunan ini sebelumnya telah diselenggarakan di Belanda (2002), Tiongkok (2004 dan 2014), Afrika Selatan (2006), Amerika Serikat (2008 dan 2016), Republik Ceko (2010), Jepang (2012), dan Polandia (2018).

TEMPO