Cara Ajaib Si Singamangaraja I Beroleh Senjata Sakti Mandraguna dari Raja Uti

Bakara, basis dinasti Si Singamangaraja (foto tujuh: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)
Bakara, basis dinasti Si Singamangaraja (foto tujuh: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Tulisan-2

JAKARTA, Kalderakita.com: Akhirnya tiba waktunya bagi Raja Manghuntal (Si Singamangaraja I) untuk menyempurnakan kedigdayaannya. Debata Mulajadi Nabolon (Sang Illahi) sudah memberinya petunjuk agar mendatangi Raja Uti. Tujuannya? Untuk mendapatan pusaka maha-istimewa, berupa senjata sakti mandraguna dan perlengkapan lain.

Dari Bakara [baca: Bakkara],  Raja Manghuntal pun bertolak ke Barus di pantai Barat, di tengah Sumatra. Mencapai bandar tua yang tak jauh dari Sibolga itu merupakan tantangan tersendiri. Perlu kita ingat bahwa di pertengahan abad ke-16 tersebut belum ada kendaraan bermotor macam Go Car atau Grab sekarang. Yang paling bisa diandalkan ya, kuda sebagai tunggangan. Belum ada pula global positioning system (GPS). Alhasil,  lokasi di Pulo Musala itu niscaya sulit dicari. Apalagi Raja Manghuntal belum pernah ke sana. 

Hambatan terberat bukan jarak sebenarnya, melainkan pertahanan berlapis yang berlokasi di dekat kediaman Raja Uti.  Di sana ada penjaga serba ganas yakni gajah, harimau, ular berbisa, dan yang lain. Gajana  gajalumajang, ulokna ulok dari, napagostong botohon naparimpur jari-jari (Raja Patik Tampubolon, Pustaha Tumbaga Holing, edisi 2002).

Ternyata semua mahluk ganas itu diam saja laksana tersihir ketika penguasa dari Bakara itu melintas. Kalah wibawa mereka.

Tatkala sang tamu berseru untuk menyatakan kedatangannya, ternyata bukan Raja Uti yang muncul melainkan istrinya.

Tulang [paman] dimana?”

“Sedang jalan-jalan,” jawab  nyonya rumah.

Raja Manghuntal marhula-hula [berpaman]  ke Raja Uti. Hula-hula [pihak keluarga ibu atau istri; bahasa Inggrisnya: bride-giver] sangat ditinggikan orang Batakdari dahulu hingga sekarang.

Keturunan Raja Isombaon, Raja Manghuntal. Sedangkan Raja Uti turunan Guru Tateabulan.

Guru Tateabulan dan adiknya, Raja Isombaon,  adalah putra Si Raja Batak (manusia Batak yang pertama). Dua putri Guru Tateabulan—Si Si Boru Anting Sabungan dan adiknya, Si Boru Biding Laut—bersuamikan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon. Konsekuensinya, seluruh keturunan Guru Tateabulan menjadi hula-hula bagi segenap keturunan sang adik.

Pagar Alam yang terbuat dari Bongkahan batu dan pohon, di kompleks Istana Bakara (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Si Raja Uti yang pertama—namanya Si Raja Biakbiak atau Raja Miok-miok—adalah buah perkawinan Guru Tateabulan dengan Si Boru Baso Burning. Anak sulung, adiknya 4 lelaki (Tuan Sariburaja, Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Malau Raja) dan 4 perempuan  (Si Boru Pareme, Si Boru Anting Sabungan, Si Boru Biding Laut, dan Si Boru Nan Tinjo).

Bergelar Raja Hatorusan, Si Raja Biakbiak meninggalkan saudara-saudaranya di Pusuk Buhit. Di Ujung Barus ia bermukim, kemudian. Anak-anaknya, Raja Uti II-IV turun-temurun menjadi penguasa di sana. Adapun yang sedang didatangi Raja Manghuntal (Si Singamangaraja I) adalah Raja Uti VII (MA Marbun-IMT Hutapea, Kamus Budaya Batak Toba, 1987).

UJIAN BERAT

Setelah dipersilakan masuk ke rumah, Raja Manghuntal, mengatakan dirinya lapar karena telah melakukan perjalanan panjang. Ke Nantulang (istri Raja Uti) ia meminta dibuatkan ingkau ganjang alias sijungkot [sayur]. Permintaannya dikabulkan.

Saat bersantap, sayur itu diangkatnya tinggi-tinggi. Dengan demikian, kepalanya menengadah. Sontak ia melihat seseorang di langit-langit rumah. Beradu pandang, yang dilihatnya itu pun terkejut dan malu karena tertangkap basah.

“Bah, Tulang rupanya di situ…Turunlah, biar kita makan bersama,” ucap Raja Manghuntal.

Ia memang sengaja meminta ingkau ganjangke Nantulang. Tujuannya agar bisa melihat wajah sang paman.

Raja Uti yang satu ini memiliki sebutan Raja Munsung Babi. Mulutnya memang seperti moncong babi. Penampakan inilah yang membuat dia tak sudi memerlihatkan wajah ke orang lain. Padahal ia sangat sakti. “Uti na so ra mate, Uti na so ra matua, sipalamak ate-ate jala sidandan butuha,” begitu sebutan untuk dia. Artinya? Uti yang tak kunjung mati dan menua, pelapang hati,  penjalin perut.

Selain untuk menyembunyikan wajahnya, ada juga alasan Raja Uti sehingga mengambil tempat di langit-langit rumah tatkala Raja Manghuntal bersantap. Ia mau memastikan bahwa tamunya orang yang lidahnya berbulu; sebuah tanda dari sosok yang benar-benar namarhasaktian [sakti].  Syahdan, setiap Si Singamangaraja (dari yang pertama hingga ke-12) lidahnya berbulu.

Raja Uti turun dan menghampiri tamunya. Kedua lantas bercakap.

Tuan rumah bertanya apa gerangan maksud kedatangan sang tamu. Kepada tulang-nya Raja Manghuntal mengatakan hendak mengambil  pusaka kerajaan.

Seketika wajah Raja Uti berubah. Kalau benda-benda itu ia serahkan berarti kedigdayaan dirinya akan berkurang,  kalau bukan sirna.Ia lantas menetapkan sejumlah syarat. Penguasa dari Bakara itu dimintanya menyiapkan ri nabolak [akar-ilalang yang lebar], lote namarlailai [puyuh yang bulu ekornya panjang], ijuk nasatotoran [serabut di pelepah pohon enau yang panjangnya setangkai lembing], dan tali rihit [tali yang terbuat dari pasir]. Hal yang serba musykil dipenuhi manusia biasa,  bukan?

Raja Manghuntal pulang ke Bakara. Ia kemudian mencari semua yang disyaratkan itu. Sebagai sosok namarhasaktian[sakti], semua bisa didapatkannya. Ri nabolak diperolehnya dari Simamora Nabolak (Humbang), lote namarlailai dari Pulau Samosir, ijuk nasatotoran dari Uluan (dekat Porsea), dan tali rihit dari Sitorang-Parsambilan, Porsea.

Lesung batu-kuno di kompleks istana sekarang (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Dengan  membawa serta persyaratan yang diminta, ia kembali mendatangi Raja Uti di Barus. Sang tuan rumah terperanjat saat melihat semua yang dimintanya tersedia sudah.

Tak mau menyerahkan begitu saja pusaka yang sekian lama membuat dirinya maha-sakti, ia pun menguji kembali kehebatan tamunya. Barang-barang itu disembunyikannya di gerbang kampung, di atap rumah, di bubungan, dan di tempat lain.

“Kalau bisa kaudoakan dengan kesaktianmu, panggillah pusaka itu ke hadapanmu. Bila berhasil, kehendakmu jadilah. Bawalah semuanya ke kampungmu. Tapi, kalau tak bisa ya.. mau apa lagi; pulang saja kau,” kata Raja Uti. “Aku juga mendapatkannya bukan dengan meminta-minta ke seseorang. Mulajadi Nabolon yang mengirimkannya ke aku.”

Saat itu juga, di tengah halaman,  Raja Manghuntal berdoa kepada Mulajadi Nabolon.  Ia meminta agar pusaka tersebut datang ke hadapannya. Gaja Puti [Gajah Putih] yang pertama ia sebut, agar bisa didudukinya.

Mendadak binatang raksasa itu muncul dari gerbang dan berhenti di dekatnya. Berturut-turut yang lain hadir. Hujursane-siringisatau Hujur Sitonggo Mula [tombak pemanggil mata air] meluncur dari atap rumah. Piso Gaja Dompak (Piso Solam Debata) dan Piso Halasanjatuh dari langit-langit. Piso Pangabas terbang dari gerbang kampung. Adapun  Tabu-tabu Sitarapullang [buli-buli wadah air], Lage-lage haomasan atau Tikar Silintong Pinartaraong omas [tikar permadani keemasan], Tumtuman tumpal pinarlubangatau Tumtuman sutora malam [kain lilit kepala yang menjadi mahkota kerajaan] dan Ulos sande huliman [kain ulos penangkal api] diambil dari rak penyimpanan.

Dengan menunggangi Gaja Puti yang mengangkut segenap pusaka tersebut, Raja Manghuntal (Si Singamangaraja I) pulang ke Bakara. Di kampung halaman ini dia kemudian membangun kerajaaan.  Demikian menurut sahibul hikayat. Raja Patik Tampubolon—seorang lulusan sekolah zending (tahun 1903) yang kemudian (pada 1942) mendirikan organisasi Golongan Si Raja Batak, di Pematang Siantar—menuliskan kisah berbalut mitos ini dengan baik.

Menurut  kepercayaan orang Batak zaman baheula, dinasti Si Singamangaraja yang dirintis Raja Manghuntal di pertengahan abad ke-16 bertahan sampai 12 generasi. Kisah tentang mereka—termasuk yang dulu selalu dipentaskan Opera Serindo-nya Tilhang Gultom dalam pementasan pamungkasnya—terkadang melampaui nalar saking fantastisnya. Sebab itu,  wajar saja kalau ada yang bertanya: nyatakah mereka—termasuk kemaharajaannya—ataukah sekadar karakter macam dalam mitologi Yunani atau Romawi belaka? Pertanyaan ini tentu saja perlu dijawab. Lantas, bagaimana jawabannya? (bersambung)