Tanaman Endemik Ini Terancam Punah

Pohon Kemenyang (foto: genpi)
Pohon Kemenyang (foto: genpi)

JAKARTA, Kalderakita.com: Sebuah tayangan video yang diunduh Auriga.or.id menampilkan sosok petani kemenyan Hemat Manalu yang tinggal di Dusun Huta Tor Nauli, Tapanuli Utara. Dalam tayangan tersebut, Manalu mengeluhkan mulai sulitnya mendapatkan kemenyan di hutan. Padahal secara turun temurun, itu adalah sumber mata pencaharian utama masyarakat sekitar hutan.

Manalu tinggal di Huta Tor Nauli yang berpenduduk 60 kepala keluarga. Dia menuding tergerusnya hutan kemenyan karena PT Toba Pulp Lestari yang dahulu bernama PT Inti Indorayon Utama terus melakukan ekpansi penamanan eucalyptus.

Kemenyan merupakan tanaman endemik yang ada di Sumatra Utara. Pohon ini menghasilkan getah, dikenal sebagai benzoin yang berbau harum. Kemenyan biasa digunakan untuk upacara ritual, campuran rokok, bahan pengawet, ekspektoran, antiseptik, industri kosmetik, dan parfum.

Tanaman ini tumbuh hampir di seluruh hutan yang ada kabupaten di Danau Toba, tapi terbanyak ada di daerah Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan (Humbahas), Pakpak Bharat, dan Toba Samosir.

Ada juga di Dairi, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah, meski tidak terlalu banyak. Penghasil terbesar masih dirajai Tapanuli Utara dan Humbahas.

Di Tapanuli Utara, tanaman ini banyak tumbuh di Kecamatan Parmonangan, Sahae, dan Sipahutar. Sedangkan untuk Kabupaten Toba Samosir, ada di Kecamatan Borbor.

Tanaman kemenyan mulai punah (foto: AMAN)

Kemenyan atau haminjon ini sudah menjadi bagian dari tradisi suku Batak. Tercatat setidaknya sejak 1919, ia sudah merupakan salah satu hasil bumi andalan Tapanuli Utara selain karet, kopi, dan kopra.

Kemenyan kala itu banyak diekspor ke Eropa. Melalui Pelabuhan Barus, haminjon dibawa menjejak tanah Eropa hingga Timur Tengah. Itu sebabnya, Bangsa Eropa sejak dulu mengenal Tano Batak sebagai penghasil kemenyan terbaik.

Bahkan ada ritual khusus mengolah pohon kemenyan, namanya mangarontas. Ritual ini bertujuan agar diberi perlindungan dan keberhakan saat mengolah pohon kemenyan. Pada 2018 lalu, mangontas telah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia.

Hutan kemenyan berpotensi untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata ekologi. Apalagi saat ini pemerintah telah berkomitmen mengembangkan Danau Toba sebagai daerah tujuan wisata bertaraf internasional.

Seruan untuk menetapkan wilayah hidup haminjon sebagai hutan milik masyarakat adat terus bergulir. Selain melestarikan tradisi, ia juga dapat berfungsi sebagai sumber air untuk danau. Lebih jaun, pemerintah juga dapat memfasilitasi mesin produksi untuk mengolah kemenyan agar petani tidak lagi menjual hanya getah.