Setelah 40 Kilometer, Hujan Deras Hentikan Langkah Togu Simorangkir dkk

Rehat makan di sebuah lapo bersanding dengan truk kayu TPL (foto: FB Togu)
Rehat makan di sebuah lapo bersanding dengan truk kayu TPL (foto: FB Togu)

Hari ke-2

JAKARTA, Kalderakita.com: Saat bercakap melalui  WhatsApp barusan, Togu Simorangkir mengabarkan tengah istirahat dan menyudahi dulu aksi jalan kaki untuk hari ini. Di hari ke-2, dia bersama dua temannya sesama aktifis sudah berjalan sejauh 40 kilometer.

Saat ini rombongan tengah beristirahat di Gereja HKBP Pangaloan, Kabupaten Tapanuli Utara. Rencananya, mereka  akan bermalam di sana.

“Hujan deras, jalan kecil dan berkelok-kelok. Bahaya bagi pejalan kaki,” katanya.

Meski lelah karena kontur jalan yang menantang (tanjakan dan turunan ekstrim) mereka tetap bersemangat. Apalagi, sejumlah warga yang mereka temui di jalan menunjukkan dukungan dan perhatian yang tulus.

Seperti saat mereka melintas Kota Tarutung,  misalnya, seorang bapak yang sedang menggendong anaknya memberi tiga buah pepaya dan satu botol air minum.

“Aku sampai berkaca-kaca atas dukungan warga ini,” kata Togu. Bapak yang kemudian diketahui bernama Frans Manalu tak lupa menitip doa kecil: ‘Sehat-sehatlah Lae...Diberkatilah selalu’.”

Malam ini, Kepala Desa Pangaloan di Kabupaten Tapanuli Utara sudah menyiapkan makanan untuk mereka. “Makan di gereja,” kata Togu yang akan menginap di Gereja HKBP Pangaloan.

Togu beristirahat sejenak setelah rehat makan siang (foto: FB)

Hari ini ada kejadian cukup ironis. Saat rombongan hendak makan siang, mereka mampir ke sebuah lapo [rumah makan khas Batak]. Di sana sudah terparkir truk-truk pengangkut kayu milik PT Toba Pulp Lestari. Sopir-sopir memilih menghindar saat melihat rombongan.

“Tapi,  tadi ada juga supir truk TPL yang  bilang: ‘baguslah ditutup TPL, karena banyak kali cengkunek-nya [banyak tingkah],’ ha..ha,” lanjut Togu.

Aksi jalan kaki Balige – Jakarta sejauh sekitar 1700-an kilometer yang diprakarsai Togu Simorangkir  ini cukup menarik perhatian publik. Tanggapan di media sosial merupakan buktinya.

Kunjungan Menteri Siti Nurbaya ke Danau Toba

Sementara itu beberapa hari lalu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya bertemu perwakilan dari 23 masyarakat adat yang ada di Danau Toba. Seruan untuk mencabut izin PT Toba Pulp Lestari (TPL) mendominasi saat pertemuan.

Siti Nurbaya pun mengunggah kunjungan kerjanya ke Sumatra Utara di halaman Facebook. Demikian isinya:

“Dalam kunjungan kerja ke Sumatera Utara, salah satu bagian penting di antaranya pertemuan dan dialog  dengan kelompok masyarakat yang masih mengalami permasalahan dalam  isu-isu lingkungan hidup dan kehutanan.

Pada pertemuan ini saya langsung  memimpin rapat bersama Wamen dan Sekjen. Rapat  bersama antara tokoh masyarakat/grass root, dan pejabat utama KLHK. Tim KLHK mendengarkan, mencatat, dan segera setelah itu dilakukan rapat internal KLHK untuk tindak lanjutnya guna penyelesaian dengan jalan keluar yang paling pas bagi kepentingan nasional dan kepentingan masyarakat.

Ruang dialog secara langsung di tingkat tapak, serta tindaklanjutnya yang dilakukan secara komprehensif, merupakan bagian kehadiran dan keberpihakan Negara pada seluruh lapisan masyarakat. Ini juga sangat penting dimaknai agar tidak ada pihak-pihak yang melakukan aksi manipulatif hanya untuk kepentingannya sendiri. Bersama kita lakukan kerja terbaik untuk wujudkan Indonesia Maju.”

Pertemuan Siti Nurbaya dengan perwakilan masyarakat adat di Parapat (foto: FB)

Unggahan ini dibagikan di halaman Facebook pegiat masyarakat adat Abdon Nababan yang langsung direspons netizen, antara lain:

Maruli Siahaan Saor Nabirong menulis: “Ibu Siti Nurbaya ada di fb ? Waw bagus bu. Kami menonton pertemuan Video ibu dgn perwakilan Batak. Kapan ibu cabut pena ibu terkait izin tutup TPL ?? Semoga.....!

Ada juga Joehar Borgot yang menulis: “Bu Menteri agar segera menugaskan Dirjen utk merekomendasikan sangsi administratif pencabutan IUPHHK-HTI PT.TPL dan Bu Menteri akan menandatangani nya segera sehingga ketika saudara kami yg Melakukan aksi berjalan kaki dari Tapanuli ke Jakarta mendapatkan copy SK pencabutan ijin setiba di Jakarta. Salam perjuangan “TUTUP TPL”