Makna Simbolik dan Semangat Juang Si Singamangaraja di Balik Misi Gila Togu Simorangkir dkk

Ritual adat Batak melepas Togu Simorangkir dkk jalan kaki Balige - Jakarta (foto: FB Anita M Hutagalung)
Ritual adat Batak melepas Togu Simorangkir dkk jalan kaki Balige - Jakarta (foto: FB Anita M Hutagalung)

JAKARTA, Kalderakita.com: Sudah 3 hari Togu Simorangkir, Anita Martha Hutagalung, dan Irwan Sirait menapak diikuti rombongan kecil pengiring. Memulai dari kompleks makam pahlawan nasional Si Singamangaraja XII di Soposurung, Balige, mereka berencana menggapai Jakarta yang jaraknya sekitar 1.700 kilometer. Misi gila, bukan? Tentu saja.

Semua itu mereka lakukan sebagai perlawanan simbolik terhadap perusahaan yang tak kurang dari 30 tahun merusak alam Kaldera Toba:  PT Toba Pulp Lestari (d/h [baca: dahulu] PT Inti Indorayon Utama) milik bos konglomerat kelahiran Belawan tahun 1949,  Tan Kang Hoo (Sukanto Tanoto).

“A long journey of thous ands miles begins with a single step” [perjalanan panjang ribuan mil dimulai dengan satu langkah]. Demikian pepatah kuno Cina yang terbaktub dalam kitab Dao De Jing [Tao Te Ching] yang ditulis Lao Zi [Lao Tzu].  Togu dan rombongannya pun begitu.

Pagi tadi mereka meninggalkan Sipirok (Kabupaten Tapanuli Selatan),  lembah berhawa sejuk di kaki di kaki Gunung Sibualbuali. Hangat-bersahabat, penduduk kota kecil ini menyambut mereka kemarin. Bukan itu saja; mereka juga menyiapkan tempat untuk bermalam.

Tentu bukan hanya warga Sipirok yang bersukacita menyambut mereka. Penduduk di lintasan sebelumnya pun demikian. Selain menyapa atau melambai, ada dari mereka yang memberikan sesuatu secara spontan. Pepaya, mangga, nenas, dan buah naga, di antaranya. Tak banyak jumlahnya, paling 1-3 buah. Tapi, sangat bernilai sebab itulah yang bisa mereka serahkan dengan serta-merta.  Pula, mereka menyampaikannya dengan tulus.

Ada pula yang mendoakan. Yang lebih banyak lagi adalah yang minta berfoto selfie. Yang terakhir ini bisa mengingatkan kita pada sosok Forrest Gump (diperankan Tom Hanks dalam film  ‘Forrest Gump’ yang diluncurkan  tahun 1984), lelaki ber-IQ rendah dan lemah fisik tapi kemudian beroleh medali  penghormatan karena keberanian dan keperwiraannya sebagai tentara di medan perang Vietnam.

Setelah meninggalkan dinas militer,  lelaki yang sejak bocah di pikirannya cuma ada sang ibu, teman kecilnya bernama Jenny, dan Tuhan lantas menjadi atlit-nasional  pingpong. Untuk membuktikan cintanya kepada Jenny, ia pun berlari dan berlari membelah benua Amerika yang maha luas. Tak kurang dari 3,5 tahun ia melakukannya. Semula sendirian, belakangan di mana-mana dia dielu-elukan orang.

Berangkat dari Alun-alun Sipirok (foto: FB Togu)

Togu Simorangkir,  Anita Martha Hutagalung, Irwan Sirait, dan tim pendukungnya tentu bukan Forrest Gump dalam hal apa pun kecuali dalam motivasi menjalankan aksi gila. Unsur kesamaan mereka adalah bergerak karena cinta. Forrest Gump cinta pada Jenny sedangkan Togu Simorangkir dkk. pada Kaldera Toba yang sudah lama sangat menderita akibat digagahi oleh para penjarah-penghancur lingkungan.

Jadi, mereka bergerak terus tidak didorong oleh hasrat untuk mencari sensasi dengan cara murahan. Bahwa mereka kemudian perlahan-lahan  menjadi buah bibir dan  sorotan publik, itu konsekuensi saja.

SEMANGAT JUANG SI SINGAMANGARAJA

Dalam sebuah pertemuan Zoom yang dituanrumahi Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM, berbasis di Parapat)  dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Wilayah Tano Batak (AMAN Tano Batak) Togu Simorangkir menjelaskan apa yang melatari sehingga dia dan kawan-kawannya memutuskan untuk berjalan kaki dari Balige ke Jakarta.

Ia menyatakan dirinya sama sekali tak bermaksuk pajago-jagohon [sok jago] supaya dianggap pahlawan.

“Sama sekali bukan! Juga, bukan berarti bahwa dengan misi gila kami nanti maka TPL akan ditutup. Kita semua harus bekerjasama untuk menutup TPL. Mari kita berjuang dengan cara masing-masing. Kami akan jalan kaki ke Jakarta. Kalian mau apa ya terserah saja,” ucap dia sambil menyempatkan diri menenggak tuak yang di dalam jeriken kecil.

Pada kesempatan lain ia mengungkapkan di laman Fb-nya bahwa semangat juang Si Singamangaraja kian merasuki sehingga dirinya semakin merasa  mantap untuk menjalan aksi gila. Ia mengatakan akan membawa serta buku Ayahku Si Singamangaraja XII, Pahlawan Nasional (terbit tahun 1992) yang merupakan perkisahan dari Poernama Rea boru Sinambela,  sebagai temannya dalam perjalanan.

Poernama Rea menikah dengan marga Simorangkir. Anak pasangan ini termasuk ibu dari Maruli Tobing (ia lama menjadi wartawan koran Kompas) dan ayah Togu Simorangkir. Jadi, Maruli dan Togu yang beribukan Rondang Gultom asal Sitiotio, Pulau Samosir, adalah cicit Si Singamangaraja XII. Wajarlah kalau mereka mewarisi darah juang sang kakek yang luar biasa.

Hari ini tepat 114 tahun Si Singamangaraja XII berpulang. Togu mengingatnya. Pastilah hari ini perasaan dia lain dari biasanya. Kemungkinan semangatnya untuk menggapai Jakarta dengan  berjalan kaki bertambah menyala.

Di perbatasan Taput - Tapsel (foto: FB Togu)

Untuk menyemangati Togu Simorangkir, Anita Martha Hutagalung, Irwan Sirait, dan rombongan mereka, sekaligus untuk mengenang jasa maharaja Si Singamangaraja yang memang luar biasa,  aku juga melakukan sesuatu.

Mulai hari ini aku akan menurunkan di Fb perkisahan ihwal wangsa Si Singamangaraja yang berasal dari Bakara, negeri yang tak seberapa jauh dari tepian Danau Toba. Aku berharap lewat tulisan-tulisan sederhana tersebut angkatan muda Batak  akan tergugah sehingga melakukan sesuatu untuk menyelamatkan dan melestarikan negeri leluhurnya. 

Alhasil, selamat berjuang tiga kawan pelawan perusahaan perusak alam! Aku yakin, pecinta-Kaldera Toba lainnya tak akan tinggal diam. Mereka akan bergerak dengan caranya masing-masing.