Keeksotikan Kaldera Toba Sungguh Nyata dari Menara Pandang Tele

Menara Pandang Tele (foto: P Hasudungan Sirait/kalderakita.com)
Menara Pandang Tele (foto: P Hasudungan Sirait/kalderakita.com)

SAMOSIR, Kalderakita.com: Kegigantikan (keraksaan)  dan keeksotikan kawasan Kaldera Toba  nyata betul dari kitaran Panatapan, Tele. Menara Pandang, bangunan 3 tingkat yang diresmikan Bupati Tapanuli Utara pada 1988 dan berada di pengkolan yang terletak di punggung bukit menjulang,  tentu saja titik yang sangat tepat digunakan pengunjung untuk menikmatinya.

Semenanjung yang menjorok, Pulau Samosir yang membentang, air Danau Toba yang menghampar, serta bukit-bukit yang tegak berbaris—termasuk Sibea-bea yang puncaknya kini telah bersalib raksasa dan Holbung 4 berderet—terlihat di kejauhan. Pun gunung mitologis Batak, Pusuk Buhit (di sebelah kiri). Penampakan alam ini macam lukisan beraliran Indie Mooi[Hindia Molek] yang dihasilkan perupa terkemuka kita: Raden Saleh, Mas Pirngadie, Raden Abdulah Soerjosoebroto, Wakidi, Basuki Abdullah, dan yang lain.

Tapi, keelokan itu disaput kengerian juga.

Jalur Tele sekian lama identik dengan neraka. Bagaimana tidak? Pelintas yang berkendaraan mesti mendaki (atau menuruni) bukit yang tinggi dan curam. Jalannya yang sempit meliuk-liuk pula, dengan tikungan yang tajam betul pula.  Keprimaan mobil atau sepeda motor pastilah sangat dituntut di sana.

Jika tak berkualifikasi supir Medan [sebutan orang Sumatra untuk pengemudi yang sangat kawakan), orang akan gentar lewat di sana. Sebagai perbandingan,   lintasan Parapat-Sibaganding (jalan menuju Pematang Siantar dan Medan) sudah meneror mereka yang hanya terbiasa menyetir di dalam kota Pulau Jawa. Padahal, itu masih kalah jauh sebab lintasannya landai dan cukup lebar.

Sebagai gambaran, di Tele-lah mantan Wakasad Letjen (pun) Adolf Sahala Rajagukguk   kehilangan nyawa. Kejadiannya pada Sabtu petang, 16 November 2002. Istrinya, Katherina Nainggolan, dan iparnya, Binsar Nainggolan, juga meninggal kala itu. Yang selamat adalah yang menyupiri dan seorang tukang kebun. Rombongan baru pulang dari Mogang, Pulau Samosir,  menghadiri acara peletakan patu pertama tugu simatua [mertua] mantan Dubes RI untuk India tersebut. Mereka sedang menuju bandara Polonia, Medan. Ternyata di Banihara sebongkah batu jatuh ke jalan. Land Cruiser mereka pun terguling masuk jurang sedalam 300 meter.

Untunglah lintasan Tele sekarang sudah jauh lebih bersahabat. Seperti halnya jalan lingkar Pulau Samosir, jalur Onan Runggu—Nainggolan—Pangururan—Tele (68,43 Km) telah dibaguskan Kementerian PUPR. Artinya, sepanjang 47,1 Km dilebarkan dan 21,33 Kmditinggikan mutunya. Berbiaya Rp 159,24 miliar, proyek ini klar pada penghujung 2019. Setelah dipermak, kengerian yang membayang sejak perbatasan Harianboho hingga Simpang Tele—kalau ke kanan ke Sidikalang dan ke kiri Dolok Sanggul—sudah banyak berkurang.

Sebagai otoritas, pemerintah Kabupaten Samosir sedang berencana membenahi kawasan Menara Pandang Tele. Sejauh ini di sana baru ada tempat rehat (restoran dan kedai), selain kantor mungil Badan Geologi.

Kalau sudah ditambah fasilitas dan dipermolek, kawasan ini pasti akan menjadi ikon wisata Pulau Samosir pula. Jaraknya tak jauh dari Sidikkalang (ibukota Kabupaten Dairi), Dolok Sanggul (ibukota Kabupaten Humbang Hasundutan) dan Pangururan (ibukota Kabupaten Samosir). Di dekatnya terdapat daerah tujuan wisata yang sedang in yakni Sibebea, Holbung, dan Efrata (air terjun). Jadi, sekali merengkuh,  selusin lebih tempat pesiar yang sangat mengasyikkan bisa kita nikmati. Sebab itu, longoklah!