Togu Simorangkir dan Oni: Tano Batak Sedang Dalam Keadaan Tidak Baik-baik Saja

Konferensi Pers Aliansi Gerak Tutup TPL
Konferensi Pers Aliansi Gerak Tutup TPL

JAKARTA, Kalderakita.com: Togu Simorangkir, pegiat sosial sekaligus inisiator aksi jalan kaki Balige-Jakarta sejauh 1.700-an kilometer, menegaskan bahwa aksinya bersama teman-teman yang tergabung dalam TIM (Tulus, Ikhlas, Militan) 11  bukanlah untuk menggalang dana.

Aksi nekad berjalan kali selama 44 hari ini bertujuan untuk mencari perhatian publik serta membangkitkan kesadaran bahwa Danau Toba [saat ini] sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Dipicu oleh persitiwa bentrokan fisik antara warga Desa Natumingka Kecamatan Borbor, Kabupaten Toba, Sumatra Utara dengan karyawan PT Toba Pulp Lestari (dahulu bernama PT Inti Indorayon Utama) pada 18 Mei lalu, Togu mengatakan idenya spontan saja muncul. Meski menurutnya, itu hanya salah satu faktor pemicu.

“Akumulasi. Sudah muak dan geram terhadap TPL yang semena-mena terhadap masyarakat adat,” kata Togu dalam acara Konferensi Pers Aliansi Gerakan Rakyat (Gerak) Tutup TPL yang digelar hari ini, Jumat (30/7).

Langkah mereka sempat terhenti pada 27 Juli lalu saat rombongan tiba di Jalan Sisingamangaraja –  persisnya di Bundaran Air Mancur Senayan, Jakarta. Togu berjanji dia dan kawan-kawan akan menuntaskan sisa 8 kilometer lagi hingga ke Istana Merdeka untuk menemui Presiden Joko Widodo.

“Yang pasti, TIM 11 yang sebagian besar baru saling kenal pada H-1, masih tetap solid dan kompak hingga hari ini yang sudah memasuki hari ke-47. Kami masih terus menunggu kabar dari istana. Dan masih ada 8 kilometer lagi [untuk kami tuntaskan].”

Togu Simorangkir (foto: P Hasdngan Sirait/Kalderakita.com)

TIM 11 beranggotakan 11 orang, termasuk peserta termuda Bumi Simorangkir yang usianya masih 8 tahun. Mereka berasal dari desa-desa di kitaran Danau Toba. Profesinya pun beragam. Ada petani, ibu rumah tangga, penyandang disabilitas yang juga tukang jahit, guru honorer, pemilik bengkel, supir, tenaga medis, hingga kepala urusan pelayanan di sebuah kantor desa.  

Tuhan Mencukupkan

Dukungan moril maupun materil bagi aksi ini sungguh luar biasa. Tak sedikit yang spontan menyumbang logistik, akomodasi, bahkan uang.

Mereka bahkan menjuluki TIM 11 sebagai pahlawan mewakili Bangso Batak.

“Risih juga [kami] dibilang pahlawan, pejuang. Karena sebenarnya kami hanya ingin menyuarakan pelestarian Danau Toba untuk generasi mendatang. Kami ingin menyampaikan aspirasi ini kepada Presiden. Bersilaturahmi dengan beliau sebagai rakyat yang memiliki presiden yang luar biasa,” imbuh Togu.

Segera setelah Togu meng-upload ide ‘lucu’-nya – demikian ia menyebut gagasan aksi ini –  untuk berjalan kaki dari Toba ke Jakarta, dukungan pun mengalir.

“Dari awal banyak yang meminta nomor rekening untuk mendukung [aksi ini]. Tetapi tidak kami beri. Kami [hanya menerima pemberian] dari saudara dan teman-teman dekat anggota TIM 11. Tujuan [aksi ini] bukan untuk menggalang dana. Kami ingin menyampaikan aspirasi kepada Presiden.”

Ternyata,  menurut Togu, Tuhan bercandanya aneh. “Dia telah mencukupkan aksi ini.”

“Jadi, mohon maaf untuk teman-teman yang meminta nomor rekening, kami tidak [bisa] beri. Bukan sombong tetapi memang tujuan aksi ini hanya untuk menyampaikan aspirasi. Juga yang ingin mengisi pulsa kami agar bisa terus [siaran] live di media sosial, kami [masih] bisa isi sendiri pulsanya,” demikan pesan Togu.

Sepanjang perjalanan selama 44 hari melintasi 7 provinsi, ada saja warga yang memberi uang sebagai bentuk dukungan. Jumlahnya pun beragam, mulai dari Rp. 20.000.

Anita Martha Hutagalung atau Oni (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Togu hanya meminta agar semua elemen masyarakat yang mendukung aksinya ini merendahkan hati, mengeluarkan ego, dan membuang semua atribut.

“Mari kita berlaku sebagai seorang Bangso Batak yang tidak akan diam jika ada penindasan dan ketidakadilan terhadap Tano Batak.”

Srikandi Oni

Anita Martha Hutagalung (Oni) ikut juga bersuara, tadi. Salah satu motor TIM 11 ini mengisahkan pencerapannya selama menjalankan misi unik yang telah memasuki hari ke-47. Ia mengatakan, dirinya spontan mengatakan ikut tatkala Togu menulis di Fb bahwa dia membutuhkan kawan berjalan kaki ke Jakarta.

“’Kau serius mau ikut?’, kata Bang Togu. Kubilang ‘Iya’.”

Anak-anaknya ternyata tak ada yang keberatan tatkala Oni memberitahu akan jalan kaki ke Jakarta. Bukannya  gentar, mereka malah menyemangati. “Mereka kenal kawan-kawanku. Anakku yang sulung bilang agar aku berlatih fisik dulu sebelum pergi.”  

Hanya Togu Simorangkir dan putranya, Bumi, ternyata yang ia kenal saat baru merapat. Begitupun, ia lekas akrab dengan yang lain. Tak hanya itu: kemistri mereka cocok serta-merta meski latar belakang kehidupannya macam-macam.

Di sepanjang perjalanan mereka saling  menyemangati. Itulah, ungkap perempuan berusia 55 tahun dan bercucu 2, antara lain yang menjadi pengobar semangat terutama tatkala lelah dan sengat matahari mendera.

Sambutan masyarakat di sepanjang perjalanan tentu saja menjadi penawar letih dan pelecut gairah mereka. Jamuan datang dari sana-sini. Saking banyaknya yang mengundang, lanjut dia, terkadang mereka bisa mampir di 3 tempat yang berbeda dalam waktu berdekatan. Di sana mereka menikmati suguhan.

Bumi, peserta termuda di TIM 11 (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

“Luar biasa sambutan yang kami terima.  Sungguh nggak kami sangka. Jadi, puji Tuhan,”kata dia dengan  ceria.

Irwandi Sirait dan Bumi yang didaulat hadirin untuk berbagi cerita ternyata memilih untuk menjadi pendengar saja.

“Bumi sedang menonton kartun anak-anak.,” kata Togu. Begitupun, bocah berusia 8 tahun itu akhirnya bersedia mendekat ke sang ayah sekali waktu. Meski sangat  sebentar, itu tentu berharga. Sosoknya  bisa disaksikan hadirin. Seperti ke Oni, komentar hadirin—lewat Chat—mengalir ke dia. Intinya, mereka kagum dan sayang ke dia.

Abdon Nababan (pegiat masyarakat adat)   yang menjadi moderator acara yang berlangsung 3 jam ini. Rukka Sombolinggi (Sekjen AMAN), Nur Hidayati (Direktur Eksekutif Nasional WALHI), Dewi Kartika (Sekjen KPA), Maruap Siahaan (Ketua YPDT), Delima Silalahi (KSPPM), Lamsiang Sitompul (Ketua Horas Bangso Batak), Pendeta Faber Manurung (korban Indorayon-TPL), dan Roganda Simanjuntak (Ketua AMAN Tano Batak) antara lain yang ikut bicara dan berseru “Tutup TPL!”.