Indorayon yang Saban Hari Membusukkan Porsea

Sarat muatan batang pinus, didadatangkan dari mana-mana, termasuk Pulau Samosir (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com
Sarat muatan batang pinus, didadatangkan dari mana-mana, termasuk Pulau Samosir (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com

Tulisan-1

PORSEA, Kalderakita.com: Sedang bercengkerama aku dengan keluarga ketika siang di tahun 1992 itu telepon rumah berbunyi. Seseorang ingin bercakap dengan diriku, kata si penerima panggilan.

“Kau di Parapat, ya…Kenapa nggak bilang mau cuti?  Aku tahu dari orang kantor kita. Aku di rumah…di Parluasan, Siantar. Sudah bosan aku di sini.”

Girang betul diriku mendengar suara yang tak asing itu meski nadanya gulana.

“Datanglah. Nanti kita bertualang. Kalau perlu kita menjelajah Pulau Samosir,” ucapku dengan bersungguh-sungguh saat mengakhiri percakapan yang menggarisbawahi keadaan kekinian masing-masing. “Kutunggu, ya…”

Alamat kuberikan. Juga, instruksi agar ia naik PMH saja sebab  bus itu akan melintas persis di depan rumah kami di Siburakburak, Parapat. Rute kendaraan yang sudah ada sejak tahun 1950-an itu berujung di pelabuhan Ajibata yang paling 1 kilometer dari kediaman kami.

Petang hari itu juga  ia sudah tiba di rumah kami. Ia berkemeja, bercelana jins, dan bersepatu kets. Sebuah tas hitam bergaya modis yang sebenarnya tak cocok dipakai saat bertualang, menjadi wadah pakaian dan perlengkapan mandinya. 

Kukenalkan dia ke seisi rumah.  Sebentar saja mereka sudah guyub dan bercakap akrab. Tentu saja diriku senang melihat lelaki yang bertubuh kukuh macam petinju atau pegulat tapi mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Dengan ibuku ia asyik bertukar cerita.

Marnangkok Panjaitan kawanku itu. Kami sama-sama  wartawan di koran Bisnis Indonesia. Sejak awal ia bertekun di liputan keuangan, terutama asuransi. Abang kandung pengacara Daniel Panjaitan—dia lama bergabung dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta)—tak pernah berpaling dari desk keuangan hingga memutuskan untuk pensiun dini berbelas tahun kemudiandari suratkabar terkemuka yang merupakan hasil perkongsian pengusaha kakap:  Sukamdani  Sahid Gitosardjono, Anthony Salim, dan Ciputra. Adapun diriku yang hanya sampai redaktur muda di sana (keluar menjelang tahun 1996),  sempat bergabung dengan desk olahraga, ekonomi-politik internasional, Bisnis Minggu, opini, dan umum.

Masih hari itu juga, menjelang magriblulusan Institut Pertanian Bogor (IPB; kalau diriku tak keliru jurusannya sosial-ekonomi) itu dan diriku menjelajah sudut-sudut kota Parapat dengan menapak. Udara sejuk dan suasana tenang pada petang dan malam sungguh kami nikmati. Kesumpekan dan kehiruk-pikukan  Jakarta serta pekerjaan keredaksianyang tak habis-habisnya sekian lama,   seketika menjauh dari benak.

Makan malam di Asia, sebuah  restoran lawas terkemuka di jantung kota, kami sempatkan.  Di saat itulah kami merencanakan perjalanan beberapa hari ke depan.

Dari 2 minggu, cuti dia masih 11 hari lagi; sedangkan aku 12 hari. Kalau dia tidak menelepon,  diriku juga tak akan tahu dirinya sedang di Siantar. Tapi, jika saja tak menghubungi kantor kami di Jakarta,  ia pun  tak menyadari diriku tengah mudik ke Parapat. Memang kami di kantor tidak pernah memusingkan siapa yang akan perlop dan akan pergi ke mana. Terlalu mewah itu bagi kami, pewarta  yang selalu di bawah tekanan deadline [tenggat waktu].

Berseliweran di jalan, truk yang menuju pabrik Sosor Ladang, Porsea (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Kalau seseorang sudah tak kelihatan batang hidungnya selama beberapa hari barulah kami bertanya ke sesama kemana dia.  Jadi, sungguh serba kebetulanaku dan Marnangkokbisa pakansi bersama di Parapat. Semesta mendukung (mestakung), kata orang sekarang.

Kami bersepakat bertualang ke Pulau Samosir. Namun, akan ke tanah kelahiran ayahnya dulu: Porsea. Kawanku itu rindu negeri leluhur.

Esoknya, sekitar pukul 10.00 kami bertolak ke sana  dengan menaiki motor Toba bermesin Colt. Seperti omprengan, kendaraan ini rupanya bisa berhenti di sembarang tempat kapan saja. Begitu ada yang menyetop ia akan menepi. Menurunkan penumpang pun seakan tak perlu aturan; kalau perlu, bisa agak di tengah jika lintasan sedang sepi. .

Sebenarnya aku ingin berhenti di Pasar Bengkok, Laguboti, saja agar bisa bersantap di sebuah  lapo[rumah makan Batak] favorit ayahku.  Saat masih bocah,  aku pernah dibawanya ke sana.  Masih kuingat bahwa masakan daging arsik[masak kuning] yang menggunakan tubis [rebung]  serta dali nihorbo [susu kerbau yang direbus dengan daun papaya] menjadi suguhannya yang istimewa.

Masalahnya, Pasar Bengkok itusesudah Porsea kalau dari Parapat. Nanti bolak-balik jadinya. Toh, kapan-kapan bisa ke sana. Alhasil, tepat di jantung kota kecil penghasil tipa-tipa—cemilan mirip sereal; bahannya padi muda  yang disanggarai sebelum ditumbuk agar pipih—akhirnya kami berhenti.

Jarak Parapat-Porsea  41 kilometer saja. Begitupun, waktu tempuh yang kami butuhkan tak kurang dari 1,5 jam. Soalnya, kendaraan beberapa kali ngetem di depan rumah makan atau kedai kopi langganan. Bahkan, saat berpapasan dengan kawannya sesama pengemudi, driver kami itu bisa menyempatkan bercakap sebentar di tengah jalan. Bahwa ada kendaraan yang terpaksa berhenti di belakang karena terhalang, ia cuek bebek saja. Agak ajaib, memang.  Ah, namanya juga motor Tobasi raja jalanan…..

Bau busuk menyengat menyergap begitu kami turun dari angkutan. Seperti bangkai, ia memualkan. Tapi aromanya  berbeda dari tubuh yang telah membusuk. Ternyata ia tak kunjung hilang meski telah beberapa meter kami menyusuri sisi jalan yang terkadang lengang.

“Bau apa ini? Kok nggak hilang-hilang?” kata Marnangkokyang berjongkok untuk membetulkan tali sepatunya.

‘Iya,ya…bikin pusing,” jawabku sembari berhenti menunggu.

Bau Indorayondo i, Amang,”[bau Indorayon itu, Amang] ucap seorang perempuan sepuh yang sedang melintas di sebelah kami. Kalau melihat cara berpakaiannya—ia mengenakan daster yang dibalut dengan mandar Balige[kain pabrikan] dan laman [pengalas kepala dari kain saat menjunjung sesuatu]—dan cangkul yang di pundak, ia sedang menuju ladang atau sawah.

Bau Indorayondoinna Inang? “ [bau Indorayon kata Ibu?] Marnangkok menegaskan. Dari nada ucapnya nyata  bahwa ia penasaran.

Ido. Songononma torus anggoon di hutanamion.”  [Iya. Beginilah terus kita cium di kampung kami ini.]

Ngasadialelengsongonon Inang?” [Sudah berapa lama seperti ini, Bu] aku menimpali.

Badung marbungkamapaberik Sosor Ladang.” [Ya setelah pabrik Sodor Ladang beroperasi].

Setelah berterimakasih ke perempuan sepuh yang telah sudi menjelaskan dan bersemangat menjawabi pertanyaan dari 2 anak muda yang penasaran, kami berdua meneruskan langkah menyusuri negeri subur yang sejak lama terkenal sebagai penghasil padi dan ikan mas. Sebelum Indonesia merdeka pun hasil  bumi ini telah mengalir jauh hingga Pematang Siantar dan Medan.

Setiap hari puluhan truk pohon pinus mengalir dari Pulau Samosir (Foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Belum lapar kami karena memang baru sekitar 2 jam lalu makan pagi di Siburakburak. Kawanku yang merupakan anak guru itu bersaran agarsoresaja kami bergerak ke kampung mereka.  Entah Lumban Sitorang berapa namanya,  sudah tak kuingat lagi. Alasannya, tempat itu jauh dan tak ada kendaraan ke sana. Kalau sudah sampai nanti akan sangat repot jika mesti ke kota lagi.

TAK SANGGUP

Di tengah terik matahari kami melangkah ke mana kaki membawa. OnanPorseayang terkenal dengan keramaiannya—sehingga lahir istilah onantombis [pasar sikut; saking semaraknya orang bisa saling sikut dengan tak sengaja]—kami jambangi. Karena bukan ari onan[hari pasaran] sedang lengang, dia. Tak lama kami di sana karena kegiatan niaga tiada.

Jembatan lebar yang di bawahnya air Danau Toba bergerak lewat  Sungai Asahan menuju samudra di pantai barat Sumatra juga kami datangi. Kecuali kali yang lebar dan kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya tempat kami berada, tak ada yang menarik untuk disaksikan di sana. Kamera (SLR) tak kugunakan.

Perut akhirnya mulai bergolak. Kami kemudian menuju sebuah lapo yang terlihat paling ramai.  Suguhan yang dipajang di etalasenya bisa menerbitkan air liur. Makanan yang serba eksotik—yang kalau di Jakarta di Senayan, Pramuka, atau Cililitan saja selalu tersedia—yang kami pesan. Sop panas tak kami lewatkan.

Bau busuk  itu ternyata sangat merusak selera makan kami. Bagaimana tidak? Otak seperti ditembusnya. Serasa ada bangkai di kolong meja sebelah. Harum uap sop dan aromamanuk napinadar [ayam bakarberbumbuanekatermasukdarah yang diasami-digarami]  tak berdaya mengatasinya.

Naso tabo do Amang?” [nggak enak, Amang?] tanya ibu pemilik warung yang sedari tadi meladeni kami dengan bersahabat. Rupanya dia memerhatikan kesetengahhatian kami memasukkan makanan ke mulut serta piring kami yang isinya masih saja mengonggok.

Olo tutu. Songonnamaoldipanganhamunahuida,” [Benar. Sepertinya sulit kalian makan, kulihat] suaminya menimpali.

Tabo do Inang, Mantapdosude, Amang. Alai bau niIndorayononmamambaen iba ndang tolap manorushon,” [Enak kok, Inang. Mantap semua, Amang. Tapi, bau Indorayon  inilah yang  membuat aku nggak sanggup meneruskan] Marnangkok menyahuti. Ia malah kemudian mencuci  tangannya di kobokan.

Perutku juga semakin menolak saja meski hidangannya sebenarnya lezat. Begitupun, masih husungka-sungka [kupaksakan]. Selain merasa tak enak ke pemilik kedai jika sampai berhenti, sedari kecil kami diajari ayahku untuk tak menyisakan sebutir pun nasi yang ada di piring.

Memang, moloso biasa  manganggo bau Indorayongiakdohilalaon. Molohamingasomal. Bohama…tiap ari dodosongonon,” [Memang, kalau nggak biasa mencium bau Indorayonrasanya jijik. Kami sudah biasa. Tiap hari kok  seperti ini] lanjut ibu itu.

Kami berdua menggali cerita dari pasangan itu  tentang nestapa warga Porseasejak Indorayon, perusahaan perusak lingkungan yang kelak berganti nama menjadi PT Toba Pulp Lestari (TPL), beroperasi di Sosor Ladang tahun 1988.Ternyata, bukan cuma bau yang saban hari menyiksa.

Tanaman dan ikan mas peliharaan warga rusak akibat limbah kimia yang berupa cairan, gas, dan bahan padat. Seng rumah lekas bocor oleh udara tercemar bahan kimia. Penyakit kulit juga menjangkiti terutama mereka yang memanfaatkan air yang sudah  digunakan dan dialirkan kembali ke sungai oleh pabrik bubur kertas (pulp) dan rayon tersebut.

Setelah mencium sendiri bau limbah gas yang tak kunjung berhenti meneror hidungserta mendengar kisah beberapa warga Porsea, barulah kami berdua menyadari bahwa persoalan maha serius sedang menggerogoti  kota kecil ini. Biang keroknya tiada lain dari pabrik pulp dan rayon yang dipunyai pengusaha asal Belawan (kota Pelabuhan dekat Medan)  bernama Tan Kang Hoo alias Sukanto Tanoto.

Truk-truk milik PT Inti Indorayon Utamayang sarat dengan pohon pinus terus berseliweran atau terkadang berhenti di sisi jalan (lihat foto-foto hasil jepretanku kala itu). Melihat frekuensi lalu-lalangnya yang tinggi,  rasa penasaran kami pun bertambah. Sebagai jurnalis,  kami ingin mengetahui seserius apa gerangan perusakan alam kota kecil ini dan kawasan Danau Toba lainnya yang menjadi sumber kayu untuk pabrik Sosor Ladang.

Eh, tak dinanya oleh siapa pun, di masa cuti itu kami berdua malah tetap berdinas! Pelacakan jejak kejahatan korporasi yang  bakal kami lakukan. Tentu saja  beban pekerjaannya berlipat-lipat lebih berat daripada sekadar mewartakan perkembangan keseharian bisnis asuransi di Tanah Air atau melaporkan situasi terkini  ekonomi-politik global.  Begitupun, kami sangat bergairah.  Soalnya, naluri dan panggilan jiwa yang menggerakkan. (Bersambung)