JAKARTA, Kalderakita.com: Tradisi literasi atau tulis menulis di kalangan suku Batak sudah lama ada. Menurut studi, nenek moyang mereka telah mengenal aksara sejak abad ke-17.

Ditemukannya Pustaha Laklak atau kitab kuno berisi aksara Toba menjadi bukti otentik.

“Secara logika bisa saya duga-duga tradisi beraksara itu mungkin di abad ke-17, tapi tidak ada yang tahu persis tahun berapa dimulai,” kata Manguji Nababan, Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak di Universitas HKBP Nommensen, Medan, kepada Kalderakita.com.

Pria kelahiran Humbang Hasundutan, 3 April 1971 ini memang satu dari sedikit ahli pustaha Laklak yang intens menggeluti aksara Batak.

Menurut Manguji, kala itu orang yang melek literasi hanya terbatas di kalangan tertentu, yakni para datuk dan raja. Itu pula sebabnya sebagian besar naskah yang ada dalam Pustaha Laklak berisi ilmu nujum dan ramuan obat-otatan tradisional. 

Untuk mengetahu lebih jauh tentang Pustaha Laklak, baru-baru ini awak Kalderakita.com, Rin Hindryati dan P Hasudungan Sirait mewawancarai Manguji selama hampir 2 jam. Berikut ini petikan lengkapnya.