Pantai Bebas, Karya PUPR yang Bakal Menjadi Salah Satu Ikon Parapat

Ikon Baru Parapat (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)
Ikon Baru Parapat (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

PARAPAT, Kalderakita.com: Seperti tugu Selamat Datang yang di bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, di sana terdapat patung sepasang lelaki dan perempuan di ketinggian. Kedua sosok yang membelakangi danau ini mengenakan pakaian adat. Masih dalam perampungan, karya ini dibalut dengan terpal biru sehingga wajah yang perempuan saja yang tampak.  

Di depan kedua sosok menghampar taman yang sekelilingnya berundak-undak. Selain tangga, ia  tentu dimaksudkan juga sebagai tempat duduk. Sebuah patung besar yang masih dibebat dengan tarpal terdapat di kanan.

Selain patung sepasang manusia, obyek penting di sini adalah menara yang terbuat dari besi. Letaknya di kiri jauh. Laksana ajang latihan panjang tebing penampakannya, fungsi utamanya adalah tempat memandang dan berselfie-ria.

Fasilitas ini masih dalam tahap perampungan sehingga  tertutup untuk umum. Difoto dari jarak dekat belum dibolehkan petugas.  

Inilah salah satu infrastruktur anyar yang dihadirkan pemerintah pusat di kitaran Parapat-Ajibata. Lainnya termasuk  bangunan megah berarsitektur Batak—terdiri dari beberapa hall—di seberang Hotel Atsari  dan pelabuhan feri Ihan Batak, Ajibata. Sesuatu yang niscaya akan mentransformasikan kawasan yang dirancang pemerintah pusat sebagai gerbang utama Destinasi Wisata Super Prioritas (DWSP) Kaldera Toba.

Sosor Pasir. Sekian lama begitu nama tempat yang kini menjadi peruntukan taman berpatung sepasang. Berada di antara tepi danau dan sisi jalan raya, dulu ia merupakan perkampungan sesak yang bangunannya sebagian besar bersahaja dan berbahan kayu. Yang berumah di bagian dalam termasuk orangtua Justin Sinaga (mantan Sekwilda Timor Timur ini terakhir berpangkat brigadir jenderal). Di dekatnya terdapat Losmen Tao Toba. Berdinding beton,   modelnya mirip Wisma Gurning yang di Tigaraja.

Foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com

Di sisi yang bersebelahan dengan jalan raya terdapat sejumlah rumah yang difungsikan sebagai tempat usaha. Toko kelontong keluarga Tumpak-Pagar Simbolon,  Restoran Sederhana (kepunyaan keluarga Rose Situmorang), biro travel Andilo, kedai kopi Pak Kopral [baca: koparal] Rumahorbo (dia ayahanda Sabungan Rumahorbo yang beristrikan Morita Gultom), dan klinik berapotik mini  Mantari [Mantri] Munte. Yang terakhir ini bagian bawahnya yang bertingkat.

Di kiri klinik keluarga Kades-Maris, John-Eden-Bonur Munte  berada Hotel Atsari 2 dan Siantar Hotel (saat masih merupakan Hotel 174, pada tahun 1960-an ayahku, Maruhum Sirait, pernah menjadi manajernya).

Di seberang Hotel Atsari 2 terdapat pom bensin milik Ompu Miduk (Justin Sirait). Setelah Aman Raidin Sinaga keluar, ayahku yang mengurusinya. Masih remaja,  diriku pernah bertugas di sana. Lahan SPBU ini terkena pelebaran jalan sehingga dipindahkan ke dekat Kantor Koramil Parapat (tak jauh dari pom bensin milik keluarga Mansur Purba) di Jl. Si Singamangaraja.

Lewat Perda Nomor 7 Tahun 1989 dan Surat Kepala Daerah (KDH) Tingkat II Simalungun tertanggal 18 Nopember 1989, warga Sosor Pasir dipindahkan ke Sosor Saba tempat terminal berada. Bangunan di sana lantas dienyahkan seluruhnya. Untuk seterusnya kawasan ini bersebutan Pantai Bebas. Yang tersisa adalah bangunan di sisi sebelah jalan. Restoran Silindung, Gumarang, dan yang lain masih bisa kita lihat sampai sekarang. 

Foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com

Tak ada fasilitas apa-apa di Pantai  Bebas hingga 30 tahun berselang. Belakangan Bupati  JR Saragih memasang plang nama besar bertulisan Pantai Bebas Simalungun Danau Toba. Sebuah penamaan yang mengundang kritik dari warga Parapat. Sebab?  Simalungun ditonjolkan sedangkan Parapat ditiadakan. Kalau saja sejak Indonesia merdeka Pemda Simalungun memerhatikan Kecamatan Girsang Sipangan Bolon yang beribukotaan Parapat, tentu resistensi tiada.  

Beberapa bulan lalu warga yang dulu mendiami Sosor Pasir  berunjuk rasa. Pasalnya, bangunan milik pribadi didirikan di sana. Tepatnya di sebelah kantor Koramil sekarang. Agak ajaib, memang. Sama ganjilnya dengan tanah di dekat rumah Dinas Perikanan, Marihat, yang kini  sudah berplang nama individu. Atau, Aquarium yang di samping Telaga Biru, Pante,  yang telah diratakan dan dikuasai perorangan sekian lama. Bagaimana tanah negara bisa dicaplok begitu saja?

PENGOLAHAN LIMBAH

Sesungguhnya infrastruktur berpatung sepasang manusia di Pantai Bebas (d/h Sosor Pasir) berfungsi ganda. Bagian atasnya fasilitas rekreasi. Sedangkan bawah tanahnya bagian dari instalasi pengolahan limbah.

Foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sejak 2 September 2020 menyiapkan infrastruktur yang merupakan bagian dari penataan kawasan Danau Toba.  Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL), sebutannya. Direncanakan klar pada 2 September 2021, biayanya yang Rp 59, 42 miliar berasal dari APBN.

Air limbah rumah tangga dan perhotelan dari jantung kota Parapat akan dialirkan ke IPAL Pantai Bebas. Dari sana  diteruskan ke tempat pengolahan di Sijambur, Ajibata, yang jaraknya paling 5 Km. Dengan demikian,  Danau Toba di lintasan Parapat-Ajibata tidak lagi menjadi jamban raksasa lagi seperti selama ini.