Ahli Bahasa Indonesia yang Bernas dan Berjejaring Terluas di Lingkup Internasional

Perjalanan sejarah Bahasa Indonesia (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)
Perjalanan sejarah Bahasa Indonesia (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

JAKARTA, Kalderakita.com: Begitu terbetik kabar pada Senin lalu  (11 Juli 2022) bahwa ia telah berpulang, sesuatu sontak melintas di benakku.   Ya, deretan karyanya yang sekian tahun bertengger di rak bahasa dan tulis-menulis di lantai 2 rumah kami. Sebagian ada yang sudah kubaca tuntas. Masa-Masa Awal Bahasa Indonesia  dan Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa, misalnya.  Ada pula yang sekadar kubolak-balik untuk memastikan akurasi tulisan yang sedang kukerjakan. Kamus Sinonim Bahasa Indonesia dan Kamus Linguistik, rujukan itu.

Profesor Harimurti Kridalaksana (lengkapnya: Hubert Emmanuel Harimurti Kridalaksana), 82 tahun, penulis yang bernas.  Selain di buku karangan sendiri,  karyanya bertebar di pelbagai jurnal dan di bunga rampai seperti Setengah Abad Bahasa Indonesia, Bahasa Nasional Kita—Dari Sumpah Pemuda ke Pesta Emas Kemerdekaan, serta Ilmuwan dan Bahasa Indonesia—Menyambut 60 Tahun Sumpah Pemuda.

Dulu, terutama saat masih belia, ia juga menulis esei di koran dan majalah, termasuk di Kompas, Sinar Harapan, dan Budaja Djaja. Pengalaman bersumbangsih di media massa tentu saja membuat dirinya akrab dengan gaya tulisan yang lincah, gamblang, dan serba benderang kendati tanpa mengorbankan bobot. Semua yang tersaji di Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa  merupakan buktinya.

Berfokus dia pada pendalaman pengetahuan tentang bahasa Indonesia  dalam sepanjang karir akademisnya yang setengah abad lebih (bermula pada 1963). Berjejaring internasional kemudian, dia sekaligus menjadi peneliti, teoritisi, sejarawan, pemikir,  dan pengajar di lapangan bahasa Indonesia. 

Sebagai bukti kepakarannya, ia diterima sebagai bagian dari sejumlah perhimpunan ahli bahasa. Societas Linguistics Europea, Linguistic Society of America, American Dialect Society, Perkumpulan Linguistik Malaysia, dan International Cognitive Linguistic Association, termasuk.

Ketua umum Masyarakat Linguistik Indonesia periode 1988-1994 ini juga bergiat di Royal Asiatic Society dan Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde (KITLV; di Belanda).

Dalam kelengkapan peran dan kemenduniaan kiprah di ranah bahasa tak syak lagi bahwa di negeri kita tercinta dia merupakan bagian dari kelompok elit yang anggotanya terlalu sedikit kalau bukan satu-satunya.

Keinternasionalan kiprahnya sebagai linguis melebihi Anton Moedardo Moeliono, Jusuf Syarif (Yus) Badudu, Amran Halim, Muhammad Ramlan, Samsuri, Maurits DS Simatupang, PWJ Nababan, Hasan Alwi, Dendy Sugono, dan yang lain. Barangkali hanya Sutan Takdir Alisjahbana (STA) pada zamannya yang bisa disetarakan dengan dia. Itu pun,  STA termashyur di lingkup dunia bukan semata karena bahasa Indonesia yang dikembangkan betul olehnya.

Penulis yang bernas (Foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Bukan linguis profesional, STA mantan guru yang kemudian menjadi sarjana hukum. Terkenal luas dia kemudian lebih karena karya sastra, keberpihakan yang sangat pada rasionalisme Barat, dan  kepeloporan dalam gerakan pengembangan-pemajuan bahasa Indonesia.

Beroleh master dari Stanford (Desember 1960) serta doktor kehormatan dari Universitas Indonesia (1979) dan Universitas Sains Malaysia, Penang (1987), predikat STA banyak termasuk sastrawan, budayawan, pengajar (ia lama menjadi rektor di Universitas Nasional [Unas] miliknya), filsuf, penerbit (Dian Rakyat), pengusaha, dan organisatoris (Pujangga Baru).   

Adapun Harimurti Kridalaksana, ia linguis sejati. Selulus dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FS-UI) tahun 1963 lelaki kelahiran Ungaran, Semarang,  menjadi pengajar di almamaternya. Kelak, pada 1987,  dari sana pula ia meraih gelar doktor.

Tempat belajarnya tentu saja bukan hanya FS-UI. Ia pernah menimba ilmu di pelbagai perguruan tinggi termasuk Universitas Pittsburgh, Pennsylvania, AS (ia beroleh gelar master di sana pada 1972), Universitas Stanford (ia menjadi research associate pada 1970-1971  saat kampus terkemuka AS ini bermitra dengan Universitas Indonesia menjalankan Project on Language Planning Process), Universitas Michigan (1973), dan Universitas Johann Wolfgang von Goethe Universitat, Frankfurt (1985). 

Sebagai pengajar, ia berkesempatan berbagi ilmu di sejumlah perguruan tinggi manca negara termasuk  di Stanford dan Michigan. Ia pernah menjadi guru besar tamu antara lain di Instituto Universitario Orientale, Napoli (Italia), Johan Wolfgang von Goethe Universitat, Pittsburgh University, Mahidol University, Bangkok (Thailand), Universiti Malaya dan Universiti Putera (Malaysia), University Brunei Darussalam, dan Annamalai University (India). Sebagai guru besar, di Cina juga ia pernah berbagi ilmu.

Di negeri sendiri ia juga pernah menjadi dosen termasuk di Universitas Katolik Atma Jaya (Jakarta), Universitas Trisakti, IKIP Jakarta (pascasarjana), IKIP Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (pascasarjana), Sekolah Staf Komando Angkatan Laut, dan Lembaga Pengembangan Manajemen (LPM).

Atma Jaya (Jakarta) menjadi sesuatu yang istimewa di hati penulis kitab ‘Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia’. Soalnya, selama 13 tahun  ia menjadi Ketua Badan Pengurus-nya. Setelah itu  ia menjadi rektornya pula (1999-2004). Seusai kepemimpinan di Atma Jaya itulah dia menjadi rektor Universitas Buddhi Dharma, Tangerang (2015-2019).

PENELITI-PEMIKIR BAHASA  

Sejak lama mendalami sejarah bahasa Indonesia. Begitulah Harimurti Kridalaksana yang juga merupakan lulusan kursus kewiraan  Lembaga Pertahanan Nasional (LEMHANAS) tahun 1975. Untuk itu ia pernah meneliti secara khusus bahasa Melayu Riau yang merupakan cikal-bakal bahasa Indonesia. Disponsori LIPI, telaahnya berlangsung di Pulau Bintan dan Pulau Lingga.

Rujukan berharga (Foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Masih dibiayai LIPI, ia juga meneliti bahasa Orang Laut (di Kepulaan Riau) dan bahasa Orang Sakai (di Riau Daratan; pada 1969-1972).

Lantas, pada 1974, ia melakukan survei bahasa di 3 negara jiran sekaligus (Malaysia, Singapura, dan Filipina).

Hasil kajian dia yang komprehensif terkait sejarah bahasa persatuan kita mewujud antara lain dalam Masa-Masa Awal Bahasa Indonesia, kitab  yang diterbitkan Laboratorium Leksikologi dan Leksikografi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia,  pada 2010. Separuh isi buku ini  lampiran berisi contoh-contoh tulisan dari masa ‘doeloe’. Artikel itu ada yang dilengkapi dengan ilustrasi menarik.

Sebagai nasionalis, dia sangat menghormati dan mensyukuri penyataan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dalam butir ke-2 dari 3 sumpah pemuda yang dirumuskan dalam Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928 [“Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”] dan dalam pasal 36 UUD 1945 [“Bahasa negara adalah bahasa Indonesia”].

Rintisan para founding father and mother tersebut, menurut dia, sepatutnyalah  ditindaklanjuti oleh angkatan yang lebih belia Indonesia, negara  yang mestinya betul-betul merdeka, mandiri, dan berkepribadian. Caranya? Dengan menjadikan bahasa ini hidup betul tanpa kehilangan kekhasannya bahkan setara pula dengan bahasa-bahasa utama  dunia.

Agar bisa demikian, kata sang penulis buku Mongin-Ferdinand de Saussure—Peletak Dasar Strukturalisme dan Linguistik Modern, perlu adanya perencanaan bahasa. Tujuannya bukan untuk membekukan melainkan untuk menstabilkan dengan memberikan keluwesan. Dengan demikian bahasa persatuan itu akan bisa digunakan sebagai alat komunikasi yang lincah.

Standardisasi merupakan bagian dari perencanaan bahasa. Lafal dan ejaan bahasa Indonesia sudah dibakukan terutama lewat pemberlakukan pedoman Ejaaan Yang Disempurnakan (EYD) pada 1972. Yang masih kurang mendapat perhatian,  kata dia, adalah peristilahan dan tata bahasa.

Membenahi bentuk bahasa (lafal,  ejaan, peristilahan, dan tata bahasa) saja, lanjut dia, belum cukup. Fungsi dan sikap berbahasa harus ditata juga. Fungsi yang dimaksud adalah bahasa itu akan digunakan untuk apa (berkomunikasi resmi, membahas wacana teknis, bembicara di depan umum, dan bercakap di hadapan orang yang dihormati).

Sedangkan sikap bahasa yang dimaksud adalah rasa hormat dan penghargaan khalayak pengguna pada bahasa tersebut.

Dia mengingatkan bahwa faktor internal (kecanggihan secara teknis) tidak akan membuat sebuah bahasa berjaya hingga lintas negara. Ada yang lebih penting lagi dari itu yakni faktor eksternal: politik, ekonomi, dan teknologi khalayak pemilik aslinya. Ia mencontohkan bahasa Inggris yang sampai sekarang jauh lebih digdaya dari bahasa utama lainnya: Prancis, Spanyol, dan Portugis.

Mementingkan kamus (Foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Untuk konteks  ‘zaman now’ tentu bisa kita tambahkan bahasa Mandarin dan Korea Selatan. Keduanya bertumbuh pesat seiring dengan kemajuan industri, ekonomi, dan politik negaranya. Kaum muda kita pun kian banyak saja yang menyukai dan mendalaminya. 

PEGIAT PMKRI

Bahwa Harimurti Kridalaksana seorang jawara bahasa-Indonesia, itu tak perlu kita ragukan lagi.  Namun, masih ada sisi lain hidupnya yang menarik di luar jagat bahasa. Antara lain sebagai  orang pergerakan yang kiprahnya bukan hanya di lingkup komunitas ilmuwan.

Jauh hari sebelumnya,  Pemimpin Redaksi (Pemred) Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke-2 ini,  umpamanya. pernah menjadi aktifis mahasiswa. Ia malah menjadi Ketua  Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI) periode 1962-1963. Ia memimpin di antara era Harry Tjan Silalahi (1961-1962) dan Cosmas Batubara (1963-1964).

Ahli bahasa lainnya yang juga seniornya, Anton M. Moeliono,  pernah juga menjadi orang nomor satu di PMKRI yakni pada 1953-1954. Jadi, 9 tahun berselang Harimurti Kridalaksana melanjutkan rintisan pimpinan PMKRI menjadi pendekar bahasa.

Entahlah kalau linguis-terkemuka  kita lainnya yang dikenal juga sebagai ‘bapak kamus Indonesia’, Welfridus Josephus Sabarija (WJS)  Poerwadarminta,  pula pernah  menjadi bagian dari organisasi mahasiswa Katolik. PMKRI sendiri mengada pada 25 Mei 1947 sebagai hasil fusi dari 3 Katholieke Studenten Vereniging (KSV;  Perhimpunan Mahasiswa Katolik): Sanctus Bellarminus (Jakarta), Sanctus Thomas Aquinas (Bandung), dan Sanctus Lucas (Surabaya).

Yang pasti, anak cemerlang dari keluarga bersahaja yang lahir di Yogyakarta pada 12 September 1904 lulusan sekolah normal (sekolah guru yang pengantarnya bukan bahasa Belanda). Begitupun,  siswa yang biaya pendidikannya—termasuk kursus-kursus bahasa asing di kitaran Yogya,  ditanggung sepenuhnya oleh gereja Katolik Jawa—kemudian berkesempatan menjadi dosen bahasa Melayu di Sekolah Bahasa Asing di Tokyo yakni pada 1932-1937. Dia berangkat bersama istri (Agnes Sukiran) dan putrinya yang baru berusia 9 bulan (C.Soetantri).

Di masa itu ia merangkap juga sebagai mahasiswa (sastra Inggris dan ekonomi) di perguruan tinggi lain di kota yang sama. Apakah ia bergabung dengan semacam PMKRI-nya Jepang waktu itu? Tak jelas kabarnya.

Harimurti Kridalaksana, Anton M. Moeliono, WJS  Poerwadarminta merupakan tiga raksasa bahasa Indonesia. Namun yang pertama ini masih tetap yang paling termashyur di lingkup dunia.

*Catatan:

- Artikel ini merupakan bagian pertama dari serial perkisahan ihwal sosok ahli-ahli bahasa kita yang terkemuka serta karyanya.