Chairil Anwar, Magnit yang Masih Saja Luar Biasa

Kritikus H.B. Jassin menjuluki dia pelopor Angkatan’ 45 (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)
Kritikus H.B. Jassin menjuluki dia pelopor Angkatan’ 45 (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Tulisan-2

JAKARTA, Kalderakita.com: Setelah terkapar 5 hari di Centrale Burgulijke Ziekenhuis (CBZ)—kini: Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)—siang 28 April 1949 ajal Chairil Anwar pun tiba. Usia dia baru 26 tahun 9 bulan. Kabar ini sungguh mengejutkan para kenalannya. Padahal, seperti kata kawannya sesama penyair, Sitor Situmorang, beberapa hari sebelum dirawat seadanya di CBZ, Si Binatang Jalang masih memeragakan kepadanya di Perpustakaan USIS (Layanan Informasi Amerika Serikat) Jakarta kiat menyolong karya Ezra Pound, WH Auden, dan yang lain.

Dalam skripsi [di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia; berupa telaah karya menggunakan perspektif eksistensialisme] yang dikitabkan tahun 1976 menjadi Chairil Anwar Sebuah Pertemuan, Arief Budiman juga menggambarkan hari-hari terakhir Chairil. Rujukannya adalah kesaksian S. Soeharto, teman masa kecil Chairil di Medan.

Intinya, sesudah diusir mertuanya Chairil acap menumpang di kamar sumpek pelukis kere itu di Paseban. Didera penyakit parah—paru-paru dan tifus, antara lain—ke tuan rumahnya yang pengangguran tersebut penyair gemilang uring-uringan dan mencak-mencak melulu.

Mati muda. Begitupun,  Chairil sangat fenomenal. HB Jassin menyebut dia sebagai pelopor Angkatan 45. Perintis jalan, pembentuk aliran baru, sekaligus yang paling berpengaruh di generasinya. Tak berlebihan pujian itu, menurutku.

Lewat eksperimen memermak kata untuk membuka horison tak terbatas bahasa Indonesia serta mengarungi sagara luas individualisme, anak Medan yang gemar parlente telah meretas jalan bagi sastrawan-sastrawati sezaman. Sungguh ia pengilham.

Telaah eksistensialisme oleh Arief Budiman {foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Sitor Situmorang, jurnalis muda yang dalam kembaranya terpikat oleh atmosfir Yogya tahun 1947, misalnya, menulis [dalam Sitor Situmorang—Seorang Sastrawan 45, Sinar Harapan, 1981]: “…Chairil Anwar dan Affandi adalah dua seniman yang kurasakan mengungkap zaman baru yang mekar dalam diriku, berpadu dengan segala potensi yang mencuat dalam pekik: Merdeka!”

Siapakah Chairil Anwar sang pembaru sastra Indonesia? Arief Budiman dan Pamusuk Eneste membicarakannya dalam karya mereka. Keduanya merujuk sumber yang sama yakni tulisan Sjamsulridwan—Kenang-kenangan: Chairil Semenjak Masih Kanak-kanak—di Mimbar Indonesia edisi Maret-April 1959. Karib semasih di Medan itu menggambarkan Chairil kecil sebagai anak berkemauan bebas yang tak sudi dikalahkan. Hidupnya berkecukupan karena ayahnya pegawai pamongpraja Hindia-Belanda yang berkedudukan. Toeloes, namanya, lelaki tinggi-besar yang potongannya seperti bule berasal dari Taeh, Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Kelak, di zaman Revolusi Kemerdekaan, dia menjadi bupati Indragiri, Riau.

Toeloes sangat memanjakan Chairil dengan cara meluluskan apa saja permintaannya. Tapi,  rumah bukan tempat yang nyaman bagi si anak gaul supel sebab ayah-ibunya cekcok tak berkesudahan sembarang waktu. Tabiat keduanya serupa keras.

Chairil dalam penilaian Pamusuk Eneste (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Masih di Medan, selulus HIS Chairil si pelahap buku melanjut ke MULO. Ternyata ayahnya kawin lagi. Ibunya, Saleha—berasal dari Koto Gadang, ia bersepupu dengan Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia—pun minta cerai.

Jengah, anak kelahiran 26 Juli 1922 itu pindah ke Jakarta untuk melanjut ke kelas 2 MULO. Tahun 1941, waktu itu. Ibunya menyusul beberapa bulan berselang.

Di Ibukota, pergaulan keponakan Sutan Sjahrir itu meluas tanpa batas kelas, dengan warna petualangan mengental. Kelenturan, kecerdasan, keeksotikan, kenekatan, dan bakat sastranya yang mencuat membuat dirinya disukai para lawan jenis. Petualangan asmara yang sudah ia mulai sejak di HIS berlanjut dengan keliaran yang jauh meningkat. Sekolahnya tidak klar karena di masa Jepang kiriman uang dari ayahnya sudah tak datang. Kehidupannya yang bergaya bohemian lantas berpuncak.

Plagiat

Baru 2 tahun di Jakarta remaja Chairil sudah mulai beroleh nama di dunia kesenian-kebudayaan. Kendati menulis prosa juga, lewat puisilah dirinya mencuat. Puisi yang ditulisnya tak banyak. Menurut hitungan HB Jassin, 72 saja asli (1 dalam bahasa Belanda), 2 saduran, dan 11 terjemahan. Prosanya 7 yang asli (1 dalam bahasa Belanda), dan 4 terjemahan.

Buku pertamanya yang terbit adalah Deru Tjampur Debu (Pembangunan-Opbow, 1949). Tak sempat dilihatnya kumpulan puisi ini hadir berupa kitab cetakan. Pasalnya, alih-alih memenuhi permintaan penerbit terkemuka tersebut agar menambah lagi puisinya, dari 13, ia malah menghilang begitu saja sekian lama. HB Jassin-lah, menurut Pamusuk Eneste, yang kemudian menambahkan 14 sajak lagi.

Kitab perdana karya Chairil (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Sebagai sastrawan Chairil Anwar tidak bernas. Apa pasal? Umurnya memang pendek. Lantas, ia penulis yang penuh penghayatan. Tak ada sajaknya yang sekali jadi. Terkadang sampai berbilang bulan ide sebuah syair ia matangkan di kepala. Seperti kata HB Jassin, menulis sebuah larik saja bisa berkali-kali sebab kata demi kata ia timbang benar; jarang yang tuntas satu tarikan nafas. Pasang-bongkar kata kerap ia lakukan termasuk untuk karya yang sudah dipublikasikan pun.

Standar dia memang tinggi. Wajar saja sebab sejak di HIS dirinya telah akrab dengan khazanah sastra kelas satu dunia. Karya para empu ia pelajari dengan saksama sejak dirinya masih belia. Studinya praktis tiada henti. Syair-syair para pujangga idola ia perbatinkan hingga merasuki sum-sum jiwanya. Slauerhoff dan Marsman, umpamanya, mendapat tempat istimewa di hatinya; warna keduanya pun kentara dalam karya-karyanya.

Tulisan tangan Chairil (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Akhirnya pembatinan itu memerosokkan sang penyair yang memesona. Secara post mortem Chairil Anwar banyak digugat. Entah mengapa memang ia sampai mengaku buah pena Archibald Macleish, RM Rilke, WH Auden, Hsu Chih-Mo, E. du Perron, dan yang lain yang diterjemahkan dengan ciamik sebagai karya sendiri. Dengan nada penuh simpati HB Jassin membahas secara komprehensif tuduhan plagiat itu dalam Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (edisi pertamanya tahun 1956).

Aku bisa memahami apologi yang dibangun paus sastra itu kendati tetap sukar menerimanya. Begitupun, di mataku Chairil Anwar masih tetap memasona dan tiada tara untuk ukuran Indonesia. Magnitnya masih saja luar biasa. (Bersambung)

*Catatan: Foto-foto kujepret ulang dari sejumlah kitab koleksiku.